Saturday, Sep 04th

Last update07:38:14 PM GMT

You are here:: Wawasan Muslim Cerdas

Muslim Cerdas

E-mail Print PDF

Orang dengan keterampilan emosional yang berkembang baik kemungkinan besar ia akan bahagia dan berhasil dalam kehidupan, menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas mereka.

Sekarang ini banyak peristiwa kekerasan, perkelahian, konflik yang kita saksikan lewat tayangan televisi atau kita baca di surat kabar. Kemarahan yang tiba tiba muncul di tengah-tengah formalitas sidang dewan perwakilan yang terhormat, terkadang mengejutkan para penonton televisi. Mengapa di kalangan intelektual hal itu dapat terjadi? Tidak heran di kalangan rakyat bawah jika suatu saat tiba-tiba didatangi petugas kamtib yang akan menggusur rumahnya, kemarahan pun pasti terjadi. Bentrokanpun tak bisa dihindarkan lagi. Artinya emosi masyarakat dewasa ini mudah meledak dan kemarahan mudah menyala, hal ini menyangkut masalah kecerdasan emosional masyarakat yang kian menurun. Siapapun bisa marah dan marah itu mudah. Namun, mengatur kemarahan itu bukanlah hal yang mudah. Hanya mereka yang cerdaslah, yang bisa melakukan itu.
Hal ini terjadi karena selain kondisi sosial-ekonomi dewasa ini yang memprihatinkan, pemahaman dan kecerdasan emosional ini juga memprihatinkan.
Pemahaman ini dimulai dengan masalah kecerdasan (IQ = intelligence quotient).  Pengertian kecerdasan secara umum meliputi kemampuan membaca, menulis, berhitung yang menjadi fokus pendidikan formal (sekolah). Kecerdasan seperti itu mengarahkan seseorang untuk mencapai sukses di bidang akademis. Dalam sudut pandang ini, orang  cerdas ialah mereka yang mempunyai nilai rapor bagus atau indeks komulatifnya bagus. Merekalah yang dianggap akan mencapai kesuksesan hidup. Adapun, mereka yang nilainya pas-pasan atau bahkan di bawah rata-rata di kategorikan orang “bodoh”.
Faktanya, keberhasilan hidup tidak hanya dicapai melalui kecerdasan akademis. Tidak semua orang yang nilai akademisnya bagus akan bagus pula hidup dan kehidupannya. Pandangan baru yang berkembang, ada kecerdasan lain di luar IQ, seperti bakat, ketajaman pengamatan sosial, hubungan sosial, kematangan emosional, dan lain-lain. yang harus juga dikembangkan. Hal ini lebih dikenal dengan kecerdasan emosional.

Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional (EQ = Emotional Quotient) mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin. Keterampilan ini dapat diajarkan kepada anak-anak. Orang-orang yang dikuasai dorongan hati yang kurang memiliki kendali diri akan menderita kekurangmampuan pengendalian moral.
Berdasarkan pengalaman, apabila suatu masalah menyangkut pengambilan keputusan dan tindakan, aspek perasaan sama pentingnya  dan sering kali lebih penting daripada nalar. Nilai-nilai yang lebih tinggi dalam perasaan manusia, seperti kepercayaan, harapan, pengabdian, cinta, seluruhnya lenyap dalam pandangan kognitif yang dingin. Kita sudah terlalu lama menekankan pentingnya IQ dalam kehidupan manusia. Bagaimanapun, kecerdasan tidaklah berarti apa-apa jika emosi yang berkuasa. Kecerdasan emosional menambahkan jauh lebih banyak sifat-sifat yang membuat kita menjadi lebih manusiawi.

Kecerdasan akademis sedikit kaitannya dengan kehidupan emosional. Orang dengan IQ tinggi dapat terperosok ke dalam nafsu yang tak terkendali dan impuls yang meledak-ledak. Menurut penelitian, IQ menyumbang paling banyak 20 % bagi sukses dalam hidup, sedangkan 80 % ditentukan oleh faktor lain. Kecerdasan akademis praktis tidak menawarkan persiapan untuk menghadapi gejolak atau kesempatan yang ditimbulkan oleh kesulitan-kesulitan hidup. IQ yang tinggi tidak menjamin kesejahteraan, gengsi, atau kebahagiaan hidup.
Banyak bukti memperlihatkan bahwa orang yang secara emosional cakap yang mengetahui dan menangani perasaan mereka sendiri dengan baik, dan yang mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif memiliki keuntungan dalam setiap bidang kehidupan.
Orang dengan keterampilan emosional yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan bahagia dan berhasil dalam kehidupan, menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas mereka. Orang yang tidak dapat menghimpun kendali tertentu atas kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merampas kemampuan mereka untuk berkonsentrasi pada karir/pekerjaan ataupun untuk memiliki pikiran yang jernih. Dalam pandangan Islam, orang yang cerdas adalah yang dapat memahami Al-Qur'an secara benar dan dapat mengamalkannya dengan baik dan mereka yang selalu mengingat Allah. Hal ini tertulis dalam Al-Qur'an “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali-Imron ayat 190-191). Orang cerdas atau berilmu dalam islam adalah orang yang mampu memadukan kecerdasan pikiran (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Ilmu apapun yang dimiliki oleh seorang muslim selalu berkaitan dengan kedekatannya dengan Allah. Seorang muslim yang demikian akan mempunyai kecerdasan pikiran, akhlak terpuji, tidak mudah putuh asa, toleran, dan sebagainya. Itulah yang disebut ulul albab.
Dalam sebuah hadits ditegaskan, barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan (kesuksesan) padanya, maka Allah akan pandaikan dia dalam agama. Dan, agama itu meliputi ayat-ayat Allah yang berupa ayat kauniyah (ilmu umum) serta ayat qauliyah (ilmu dinul Islam). Karena itulah orang bodoh dalam pandangan Islam ialah orang yang tidak tahu agama Islam.

Penanganan
Orang tua dan guru-guru memperlihatkan adanya kecenderungan yang sama yaitu lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya. Generasi sekarang cenderung lebih kesepian dan pemurung, lebih berangasan dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif dan agresif.
Bagaimana kita mempersiapkan anak-anak kita dalam menempuh kehidupan? Perlu pendidikan kecakapan dasar manusiawi, seperti kesadaran diri, pengendalian diri, dan empati, seni mendengarkan, menyelesaikan pertentangan dan kerja sama. Kendati terdapat kendali sosial, dari waktu ke waktu nafsu seringkali menguasai nalar. Perlu adanya keseimbangan antara kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional.
Pelatihan untuk menyatakan perasaan negatif (marah, frustrasi, kecewa, depresi, cemas) menjadi amat penting. Pelampiasan yang tidak tepat justru menambah intensitas, bukan mengurangi perasaan itu. Cara berpikir menentukan cara merasa, oleh karenanya berpikir positif sangatlah diperlukan.
Ketekunan, kendali dorongan hati dan emosi, penundaan pemuasan yang dipaksakan kepada diri sendiri demi suatu sasaran, kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain (empati), dan manajemen diri merupakan hal yang dapat dipelajari.
Pembiasaan seseorang terhadap shalat berjamaah di masjid, puasa, zakat, taklim, dan sebagainya pada dasarnya suatu usaha untuk melatih kecerdasan emosional. Akan sangat baik jika semua itu di tanamkan kepada anak-anak sejak dini. Pengalaman dan pendidikan di masa kanak-kanak akan sangat menentukan dasar pembentukan ketrampilan sosial dan emosional. (As)

 

Add comment


Security code
Refresh

Statistik Pengunjung

We have 9 guests online
Anda pengunjung ke-
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini66
mod_vvisit_counterKemarin440
mod_vvisit_counterMinggu ini2467
mod_vvisit_counterBulan ini1363
mod_vvisit_counterTotal91963

Konsultsasi Syari'ah

Ust. Kasori Mujahid

Redaksi Online

Amin santoso
:
Setyo
:
Iffah
:
Admin :

Donate Us

NO.138-0093017262
NO.521.00185.22
NO.984 2598-5