Semangat kepahlawanan di kalangan pemuda dewasa ini makin meluntur. Banyaknya pengangguran, gelandangan, dan kaum muda yang terlibat masalah narkotik, menjadi indikator bahwa semangat yang pernah didengungkan pahlawan bangsa tempo dulu di masa perjuangan sudah kehilangan gaungnya. Mengapa? Karena banyak dikalangan kaum muda saat ini tak menghayati makna dari semangat kepahlawan yang ditorehkan para pahlawan bangsa di negeri ini.Setiap tahun, Hari Pahlawan 10 November selalu kita peringati. Tapi sudahkah kita mewarisi jiwa dan semangat kepahlawanan para pahlawan bangsa yang telah berjuang dengan tetesan darah dan air mata? Sudahkah kita mengalihkan penghargaan kepada mereka dari peringatan seremonial ke peneladanan nyata, sehingga slogan "bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya" betul-betul bermakna? Pada momentum Hari Pahlawan inilah kita harus melakukan instrospeksi.
Di Indonesia perlawanan terhadap para penjajah cukup menggemparkan. Tercatat para mujahid-mujahid muslim dengan gigihnya mengusir penjajah dari tanah air. Bahkan, bangsa kolonial, baik Portugis, Inggris maupun Belanda sangat kagum pada perjuangan bangsa kita terutama pejuang muslim walau tanpa senjata yang memadai. Rakyat Aceh salah satu contohnya. Deretan nama pejuang seperti Malahayati, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan Cut Muetia menjadi simbol perjuangan rakyat Indonesia. Begitu penjajah memasuki wilayah Jawa, perjuangan tak henti dilakukan salah satunya oleh menantu Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), yang bernama Fatahillah. Panglima Fatahillah ini menjadi kekuatan melawan dan menghancurkan penjajah yang menyerang Sunda Kelapa. Begitu pula perjuangan Pangeran Diponegoro, yang menjadi simbol ketokohan ulama Islam di Jawa. Bahkan jendral besar pahlawan Indonesia yaitu Jendral Sudirman sangat terinspirasi dengan hadits untuk berjihad fi sabilillah. Semangat Jihad inilah yang telah membangkitkan semangat kepahlawanan Bangsa Indonesia.
Sudah 64 tahun yang lalu, dikumandangkanya teks proklamasi oleh Soekarno untuk memperoleh pengakuan kemerdekaan Indonesia di mata internasional, khususnya para imperialisme seperti Belanda dan Jepang. Lagi-lagi umat Islam membawa pengaruh yang besar dalam proklamasi tersebut dari beberapa torehan sejarah ini. Karena itu dapat disimpulkan bahwa Islam sangat besar pengaruhnya dalam mencapai Kemerdekaan. Citra Islam sangat diterima sebagai inspirasi Jihad para pahlawan negara.
Dari perjalananan sejarah bangsa ini, kita sebagai pelaku sejarah Indonesia pasca kemerdekaan harus bisa menghargai jasa para pahlawan kemerdekaan. Rasa penghargaan itu, diwujudkan dengan terus tumbuhnya Jihad fi Sabilillah dalam rangka menjaga persatuan (ukhuwah) dan kesatuan Indonesia. Berjihad dengan membangun peradaban Indonesia yang maju dan madani berlandaskan “Rahmat Tuhan Yang Maha Esa” dan Islamlah Rahmatan lil Alamin itu.
Jihad dalam pengertian bersungguh-sungguh dalam segala aktivitas. Ar-Raghib mengartikan jihad adalah mencurahkan segala daya/kekuatan untuk menghadapi musuh.
Jihad ada beberapa bentuk yang dapat kita lakukan dalam rangka masa mengisi kemerdekaan sekarang ini.
Pertama, Jihad Nafsi
Maksud jihad nafsi adalah berjihad melawan nafsu yang membawa kepada keburukan (Nafsus-Saiyiiah) menuju kepada kebaikan (Nafsul-Mutmainnah). Dalam surat Al-Hajj ayat 78 disebutkan “Dan berjihadlah dijalan Allah sebenar-benarnya...” Perintah berjihad juga disebutkan dalam surah al-Ankabut 69. Dalam sebuah hadits Nabi, diriwayatkan bahwasanya telah datang kepada Nabi satu kaum yang selesai berperang. Nabi berkata: “kalian telah tiba dari jihad ashgar menuju jihad akbar.” Ditanyakan kepada Nabi: “Apa yang dimaksud jihad akbar itu? Nabi menjawab: seseorang hamba memerangi dirinya sendiri.” Jihad melawan nafsu ini berperang melawan kemalasan dan kebodohan dalam diri. Ber-Jihad melawan rasa kantuk untuk melaksanakan shalat subuh. Berjihad melawan keluh-kesah dan putus asa dalam menghadapi hidup.
Karena dewasa ini kita menghadapi penjajahan dalam bentuk lain, banyak di antara kita umat muslim dijajah oleh hawa nafsu memiliki harta benda tanpa harus dengan kerja keras. Itulah, dengan korupsi, hawa nafsu untuk memiliki jabatan dan kedudukan yang tinggi dan empuk dengan cara melakukan kolusi dan nepotisme.
Kedua, Berjihad Melawan Setan
Berjihad melawan bisikan berupa keinginan, syahwat, subhat, dan keraguan yang menodai iman. Iblis dan setan merupakan penjajah utama keimanan kita dari mulai Nabi Adam sampai manusia akhir zaman. Mereka akan datang dari depan, belakang, kiri dan kanan untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Mereka mendapatkan kekuatan berupa panjang usia sampai hari kiamat untuk menaklukkan manusia.
Sekarang ini di tengah masyarakat kita makin merajalelanya kemaksiatan, angkara murka, saling menyalahkan, dan perpecahan di antara umat, serta rusaknya moral para remaja. Semua terjadi karena godaan setan yang masuk kedalam jiwa orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan merusak masyarakat kita. Namun, hal itu harus kita hadapi dengan semangat jihad dengan menahan diri untuk tidak mengikuti bisikan setan yang berada di dalam diri orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Ketiga, Berjihad Melawan Kaum Penjajah.
Kaum penjajah yang telah memerangi kita baik secara fisik maupun moril seperti di masa-masa perjuangan kemerdekaan dahulu. Berjihad melawan kaum penjajah ada empat tingkatan yaitu dengan hati, lisan harta dan jiwa. Adapun, berjihad dalam arti berperang yang seperti dialami bangsa kita dahulu sebelum kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan. Berjihad melawan kaum penjajah inilah yang menjadi puncak bentuk-bentuk jihad yang lain. Jihad bentuk ketiga ini, sangatlah berat. Sebab taruhannya harta, benda, dan nyawa. Dan Allah memberikan penghargaan khusus bagi mereka yang mati dalam rangka berjihad di dalam bentuk ketiga ini.
Namun pada masa sekarang ini bangsa kita dicengkeram oleh penjajahan dalam bentuk budaya asing yang penuh dengan kebebasan yang merusak moral para remaja, melalui media-media cetak dan elektronik. Melalui video dan film-film asing berbau pornografi dan kekerasan, yang merasuki jiwa para pemuda-pemudi kita untuk merusak masyarakat dan menerjang aturan-aturan agama.
Penjajahan ekonomi dalam bentuk pengaruh untuk memiliki berbagai barang mewah produk asing , sehingga mengambil jalan pintas seperti korupsi, kolusi, mencuri bahkan merampok dan menipu orang lain. Lalu perjuangan apa yang sekarang ini harus kita lakukan untuk menghadapi penjajahan semacam ini? Jawabannya antara lain bekerja keras untuk memunculkan media-media yang bernilai agama dan kebangsaan, dengan menjaga budaya dan etika bangsa kita yang dilandasi moral agama yang baik. Selain itu juga berjuang dan bekerja keras untuk menampilkan produk-produk dalam negeri yang bermutu tinggi dan berdaya saing dengan harga yang murah.
Semangat jihad seperti inilah yang perlu kita tumbuh-kembangkan di negeri ini. Sehingga kita dapat bangkit untuk membangun negeri ini dengan lebih baik menuju masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.
Tentunya, rasa syukur selalu kita panjatkan atas nikmat kemerdekaan sebagai buah jihad dari para pahlawan. Rasa syukur itu kita manfaatkan dengan meneruskan perjuangan jihad untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Di samping perayaan dengan kegiatan-kegiatan yang kreativitas dan perlombaan hendaknya juga dimaknai dengan perenungan akan jasa dan pengorbanan para pejuang bangsa yang telah gugur untuk memperoleh kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini. Semoga Allah menerima amal bakti dan perjuangan para pahlawan bangsa. (As).














