Supomo,S.T, Direktur Yayasan Solo Peduli
Bencana yang terus menimpa negeri ini sungguh memprihatinkan. Terlepas semua ini adalah bentuk ujian Allah swt, secara manusiawi melihat para korban sudah pasti menimbulkan perasaan trenyuh dan kasihan. Timbullah empati kepada para korban dan tergerak keinginan untuk membantu, menolong meringankan beban. Sekadar member sedikit makanan, bantuan pakaian, belum seberapa dibanding beban hidup mereka yang kehilangan segalanya termasuk juga keluarga/orang terdekatnya. Perasaan empati, simpati, dan menjadi bagian dari mereka yang menderita tumbuh dari hadirnya rasa saling peduli, setia kawan, dan kebersamaan sebagai manusia, khususnya muslim. Berikut pendapat Bapak Supomo,S.T., Direktur Yayasan Solo Peduli yang bergerak di bidang sosial.
Apa arti persahabatan menurut Bapak?
Sahabat bagi saya adalah orang yang tetap dalam ikatan persahabatan baik dalam kondisi baik maupun susah. Mereka tetap setia menjadi teman kita dalam keadaan susah ataupun senang, baik ataupun buruk, lapang ataupun sempit. Sahabat dapat memberi pengaruh positif bagi saya dalam berbagai kondisi. Saat dalam kebaikan dia ikut berperan, sedang dalam keadaan susah dia mau menguatkan iman saya. Dia peduli dengan sahabatnya. Seperti yang dicontohkan dalam sirah, Nabi dan para sahabatnya. Orang-orang di sekitar Nabi saling berlomba untuk membantu Nabi, rela berkorban menjadi tameng beliau saat perang. Mereka peduli dengan keadaan sahabatnya. Dalam Islam makna sahabat ini telah menjelma menjadi persaudaraan atau ukhuwah Islamiyah.
Ada pengalaman berkesan dengan sahabat Bapak?
Barangkali bukan pengalaman bersama seseorang. Bagi saya, keberadaan saya tidak terlepas dari peran sahabat-sahabat saya. Yang sangat berkesan bagi saya adalah para sahabat waktu kuliah. Saat itu saya mengikuti enam organisasi kampus sekaligus. Otomatis mobilitas saya sangat tinggi. Di saat harus mengerjakan amanah dan tugas-tugas organisasi itu, kawan-kawan saya atau sahabat saya mengizinkan saya menggunakan motor atau komputernya. Bagi saya itu sungguh luar biasa. Karena tidak semua orang mau melakukannya, apalagi dengan tulus.
Persahabatan identik dengan kepedulian dan ketulusan. Bagaimana dengan kondisi negeri ini yang sering terkena musibah bencana alam?
Dalam menyikapi bencana yang terjadi, sebagai muslim kita tidak boleh hanya merasa peduli dengan korban yang muslim saja. Siapapun mestinya kita tolong. Ini yang dilakukan oleh Nabi. Kepada penganut agama lain Nabi tetap berbuat baik, bahkan tanpa diketahui orang tersebut bahwa yang membantunya adalah Nabi Muhammad, orang yang selalu dijelek-jelekkannya.
Rasulullah mengajarkan kita tentang ketulusan. Demikianlah kita seharusnya saat membantu orang lain, baik sahabat dekat ataupun orang yang memerlukan pertolongan. Jangan disertai pamrih sedikitpun. Melihat bencana yang terjadi, timbul panggilan hati untuk memberi bantuan kepada siapapun yang membutuhkan.
Melihat kesenjangan sosial yang masih cukup besar, apa yang harus dilakukan?
Sebenarnya sudah ada solusi untuk mengatasinya, yakni syariat Islam dalam hal ini pelaksanaan zakat. Jika satu orang kaya saja yang memiliki aset 100 M setiap tahunnya membayar zakat sebesar 2,5 M, bayangkan jika dana sebesar itu untuk program pengentasan kemiskinan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, masya Allah. Dan setahu saya ada beberapa orang terkaya di Solo yang asetnya mencapai segitu. Belum lagi di Indonesia.
Tetapi semua itu belum terlaksana karena kurangnya kesadaran mereka yang menjadi wajib zakat. Harus ada edukasi yang pertama bagi mereka yang belum paham. Caranya dengan terus menanamkan nilai spiritual bahwa ada harta hak milik orang miskin yang masih mereka simpan. Kedua dengan adanya regulasi yang mengatur wajib zakat sebagaimana wajib pajak. Supaya mereka taat membayar zakat.
Bagaimana dengan peran lembaga sosial/zakat yang ada selama ini?
Di Solo ada beberapa lembaga zakat dan sosial yang saya lihat sudah banyak melakukan edukasi tentang zakat. Perlu perjuangan untuk membuat orang mau mengeluarkan zakatnya karena merasa itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Program-program yang dijalankan banyak lembaga sosial/zakat adalah riil, itu cukup menjadi bukti kemanfaatan zakat para muzaki. Masyarakat menjadi lebih percaya zakat yang dibayarkannya jika lembaga yang bersangkutan kredibel/dapat dipercaya dan profesional. (If)















