“Umi ini gimana?” tanya putriku sambil menunjukkan pekerjaan rumahnya. “O…ini caranya begini sayang,”panjang lebar kujelaskan cara mengerjakan tugas matematikanya. Tiba-tiba ia memotong “Bukan begitu Umi, Bunda di sekolah neranginnya nggak gitu. Beda dengan Umi,” dari raut mukanya terlihat rona protes dan bingung. “Memang kalau Bunda di sekolah ngajarinnya gimana?” tanyaku pelan. Masih terekam di memoriku kemarin putri kecilku protes dan akhirnya ngambek karena apa yang kujelaskan berbeda dengan penjelasan guru di sekolah.
“Ya begitu Umi, masak sich Umi nggak bisa lagi. Katanya Umi dulu gurunya bunda di sekolah,”protesnya lagi. Sambil tersenyum akhirnya “Maaf ya Kak, umi lupa caranya. Kita telpon Bunda yuk. Nanti kita tanya gimana cara mengerjakan soal itu.” Penjelasan bundanya membuatku tersadar, ternyata begitu caranya menerangkan di sekolah. Dalam hati aku berkata namanya anak kelas satu SD, dirubah sedikit saja protes. Tak lama selesailah tugas matematika, tapi sesaat “Umi Kakak mau mengerjakan Bahasa Arab, Umi bisa nggak?” tanya putri kecilku tiba-tiba. “Maksudnya gimana Kak,” belum selesai pertanyanku “Ya ntar kalau Umi nggak bisa kita telpon pak guru saja ya, seperti tadi,”katanya ringan. Aku hanya tersenyum mengangguk, waduh ternyata putriku meragukan kemampuan uminya batinku.Dalam beberapa kondisi bahkan anak-anak terkadang mempertanyakan seolah kita sebagai orang tua bukan sosok yang “pintar” dan bisa dijadikan rujukan untuk bertanya. Sebaliknya, kita merasa sudah mendampingi ananda belajar menjelang mereka ulangan. Tetapi hasil yang diperoleh di luar dugaan. Seolah ananda kurang cepat memahami apa yang dipelajarinya. Sehingga muncul dalam benak kita bagaimana kemampuan qurrota a'yun kita atau apa ada yang salah dengan cara kita.
Ayah bunda beberapa hal yang perlu dipahami saat mendampingi anak-anak belajar, di antaranya adalah.
1. Orang Tua dan Guru Adalah Partner
Banyak hal yang bisa dipelajari anak-anak melalui dunia pendidikan. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan sendiri oleh orang tua. Oleh karena itu diperlukan kerja sama dan sinergi kita dengan sekolah, lingkungan serta stakeholder yang lain. Guru adalah partner dalam mendidik ananda, maka sudah seharusnya kita menjalin komunikasi dan kerja sama dalam hal apapun, termasuk membelajarkan anak-anak tentang pelajarannya (baca: wilayah akademik) atau sikap hidup (baca: wilayah afeksi).
Anak perlu mengetahui bahwa guru adalah teman kita, atau sebaliknya. Pemahaman dan perasaan ini akan membantu proses adaptasi dan sosialisasi bagi anak karena anak merasa nyaman. Kondisi yang demikian akan membantu ketenangan emosi yang pastinya memperlancar masuknya informasi (baca: pelajaran) ke rekaman memori otak anak.
2. Gunakan Bahasa dan Metode yang Sama
Saat kita membantu anak-anak menerangkan pelajarannya, bukannya paham tetapi mereka menunjukkan wajah yang bertambah bingung. Sehingga sering kita katakan “Kak, cara ini sama dengan cara gurumu. Hasilnya tidak beda khan, jadi sama saja.” Padahal dalam benak anak muncul pertanyaan “Bagaimana dikatakan sama, penjelasan dan caranya saja beda.”
Problem lain yang juga sering muncul adalah saat anak menghafalkan sesuatu. Saat di rumah mereka hafal tetapi ketika hasil ulangan dibagikan ada nomor yang salah. Jika ditanya tentang soal itu anak bisa kembali menjawab pertanyaan yang ada. Kondisi semacam ini sering membuat kita bertanya ada apa sebenarnya. Langkah bijak yang bisa ambil adalah mencoba mengomunikasikan dan menanyakan kepada guru cara, metode dan pilihan diksi kata atau bahasa yang digunakan untuk menjelaskan dan mengujikan materi pelajaran. Persamaan bahasa dan metode akan mempermudah anak untuk merecall memori. Harapannya mereka akan mampu menangkap dan mengeluarkan materi pelajaran dengan baik.
3. Tidak Perlu Malu Mengakui Kalau Memang Kurang Mengerti.
Ada kalanya kita juga mengalami kebingungan, tidak menguasai pelajaran yang ditanyakan ananda. Pada saat seperti ini lebih bijak rasanya apabila kita mencoba untuk mencari tahu jawaban dengan bertanya pada guru. Kita juga dapat meminta ananda menelpon guru dan menanyakan tentang pekerjaan rumah atau tugasnya. Apabila anak masih ragu bisa kita temani saat menelpon dan kita katakan “Maaf Adik, Ayah belum mengerti, bagaimana kalau kita tanya pada pak guru saja. Ayah temani adik telpon Pak Guru ya ?” Harapannya adalah anak akan mengerti dan menghargai bahwa untuk memahami sesuatu orang harus mau terus belajar dan tidak boleh malu bertanya. Selain itu kepercayaan anak terhadap orang tua tidak akan berkurang apabila dibandingkan dengan kita berusaha menjawab tetapi ternyata jawaban yang kita berikan salah. Bisa jadi lama-lama anak menjadi kurang percaya dengan kemampuan orang tuanya. Wallahu a'lam bishowab. (Lsd)

















