Saturday, Sep 04th

Last update07:38:14 PM GMT

You are here:: Wawancara Hj. Siti Aminah: Menghargai Pahlawan

Hj. Siti Aminah: Menghargai Pahlawan

E-mail Print PDF
Menolong atau melakukan sesuatu untuk orang lain, berkorban dalam melakukan suatu kebaikan merupakan salah satu sikap kepahlawanan. Berkaca pada sejarah hidup Rasulullah dan pahlawan Islam sudah semestinya menginspirasi kita untuk menjadi orang yang tangguh dan sukses dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Lantas bagaimana kita meneladani kepahlawanan meraeka di zaman sekarang? Berikut pendapat Ibu Hj. Siti Aminah, pengusaha sukses di Kota Solo, pendiri dan Komisaris Utama penerbit Tiga Serangkai beserta seluruh unit pengembangannya. 1. Bagaimana sosok pahlawan dalam pandangan Ibu?
     Dalam pandangan saya seorang pahlawan baik zaman dulu ketika harus angkat senjata untuk berperang mengusir penjajah atau menegakkan dienul Islam dengan pahlawan zaman sekarang pun sama. Hanya zamannya yang berbeda. Seorang pahlawan adalah seorang pemimpin untuk menggerakkan para pengikutnya di dalam menegakkan kedaulatan rakyat, mendakwahkan kebenaran dienul Islam, mengentaskan keterpurukan ekonomi untuk kesejahteraan umat. Nah, pahlawan harus memiliki mental juara bukan pecundang dan siap ambil resiko terjelek. Dengan perhitungan yang sangat matang tentunya. Rasulullah adalah sosok pahlawan yang sempurna. Juga para sahabat dan pahlawan Islam uang lain. Ada Sholahudin al Ayyubi tokoh panglima perang yang disegani dan sangat toleran kepada musuh yang telah terdesak. Selain ahli strategi perang, dia juga seorang negosiator yang ulung. Ibnu Sina pahlawan di bidang kedokteran, Al Jabbar di bidang matematika, Muhammad Yunus pahlawan di bidang pemberdayaan ekonomi Islam untuk masyarakat kecil dan lain-lainnya.

2. Dalam konteks kekinian, di mana tidak ada lagi perang dan kedholiman (secara kasat mata), sikap pahlawan ini dapat diwujudkan?
     Saya pikir bisa. Karena menjadi pahlawan tidak harus berperang, kan? Tidak ada yang sulit asal kita senantiasa memiliki kemauan belajar yang tinggi, kemauan untuk mengubah ke arah yang lebih baik dengan cepat. Di samping itu kita harus kembangkan untuk berfikir positif semata terhadap Allah (husnudzon billah). Karena sifat ini yang akan mampu membuka cakrawala keilmuan kita. Yang jelas tidak ada pikiran menghasilkan kerusakan. Sebaliknya bila niat kita sudah kotor penuh dengan pamrih, tipu sana tipu sini, mungkin kalau para syuhada, para pahlawan masih hidup mereka akan menangis menyaksikan sikap-sikap generasinya yang lemah. Jadi nilai-nilai kepahlawanan saat ini yang harus kita lestarikan adalah membangun peradaban dengan peran masing-masing seperti manajemen roda berjalan yang berputar pada setiap sumbunya.

3. Menurut Ibu, bagaimana bentuk penghargaan yang dapat dilakukan untuk mereka yang dianggap sebagai pahlawan?
     Ambillah nilai-nilai teladan yang baik dari mereka (para pahlawan) dengan cara mengimplementasikan nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan kita. Baik dalam kehidupan diri kita, keluarga kita, lingkungan masyarakat, dan negara. Sekali lagi, menghargai pahlawan tidak harus berperang kontak secara fisik setidaknya untuk saat ini. Namun, mengisi kemerdekaan dengan terus membangun dengan mengembangkan sumber daya alam ditopang oleh sumber daya insani yang ber-tafaquh fiddien, yang tangguh dan berkemauan tinggi untuk belajar, maka itulah menurut saya sebaik-baik penghargaan kepada para pahlawan.

4.  Generasi awal Islam terkenal dengan ketangguhannya dalam membela agama. Kisah para sahabat sangat heroik dan menyentuh saat dibaca. Apa yang bisa dilakukan untuk meneladani sikap kepahlawanan mereka?
     Ambil nilai sukses sebagai hikmah keprajuritan mereka dalam melakukan jihad fi sabilillah. Nilai-nilai kepahlawanan mereka sangat banyak seperti istiqomah, tafaquh fiddien, kekompakan, kesederhanaan, kejuangan, kepedulian sosial, kreativitas dan mental juara karena Allah semata. Tetapi menurut saya, umat Islam tidak boleh hanya terlarut dengan kisa-kisah heroik yang menyentuh yang menguras air mata. Yang terpenting adalah bagaiamana nilai-nilai tersebut kita jadikan sebagai motivasi di dalam membangun diri, keluarga, masyarakat dan negara menjadi lebih mandiri, lebih maju dalam pemahaman agamanya, dalam ekonominya sehingga kita menjadi negara yang besar dan bermartabat, karena kita adalah “kuntum khoiro ummah ukhrijat linnas” untuk mendakwahkan kema'rufan dan memerangi kemungkaran.
     
5. Bagaiamana sikap/karakter pahlawan dapat ditumbuhkan dalam diri setiap orang?
     Saya berfikir bahwa nilai-nilai yang positif termasuk nilai-nilai kegagalan para pahlawan harus terus digali, diyakini, dikembangkan, dididikkan, dilatihkan, dan diimplementasikan kepada setiap generasi penerus secara benar. Nilai-nilai sukses harus dijadikan dasar untuk memotivasi setiap orang untuk lebih berhasil untuk lebih bermanfaat bagi orang lain dan diri serta keluarganya. Nilai-nilai kegagalan harus dijadikan sebagai picu untuk mendorong ke arah perbaikan secara totalitas. Sebagai contoh anak-anak didik kita disekolah perlu dikenalkan dengan para tokoh pahlawan sedini mungkin. Selanjutnya guru meminta anak didik untuk mengambil hikmah dari nilai-nilai heroik mereka. Bukan mengajari anak hanya menghafal nama dan tahun para pahlawan hidup. Nilai-nilai itu yang perlu didorong untuk memunculkan mental juara, mental bersaing dan sikap-sikap mandiri dalam mengelola hidup ke depan.

Add comment


Security code
Refresh

Statistik Pengunjung

We have 9 guests online
Anda pengunjung ke-
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini86
mod_vvisit_counterKemarin440
mod_vvisit_counterMinggu ini2487
mod_vvisit_counterBulan ini1383
mod_vvisit_counterTotal91983

Konsultsasi Syari'ah

Ust. Kasori Mujahid

Redaksi Online

Amin santoso
:
Setyo
:
Iffah
:
Admin :

Donate Us

NO.138-0093017262
NO.521.00185.22
NO.984 2598-5