Saturday, Sep 04th

Last update07:38:14 PM GMT

You are here:: Pembaca Menulis Orang Cerdas Itu…

Orang Cerdas Itu…

E-mail Print PDF

Hmm… sekarang jadi orang musti cerdas prens. Di era teknologi kalo ga cerdas ngikutin tren iptek kita bakalan dibilang gatek atawa gaptek prens. Itu..tu..” gagap teknologi” alias ketinggalan jaman. Wuihh julukannya, masya Allah… masya Allah… Cerdas menyikapi dan cerdas manfaatin teknologi. Itu salah satunya. Nah, yang dimaksud cerdas itu kayak gimana sih, menurut teman-teman kita? Yuk mari disimak bareng-bareng, yuuukk.

Sholahuddin Zulfin, kelas IXA SMPIT Nur Hidayah
“Cerdas itu bisa menyeimbangkan antara agama dan dunia. Kalau orang biasa bilang orang cerdas itu pinter, ya menurut saya tidak hanya pinter ilmu dunia tapi juga ilmu agama. Dalam hidupnya nggak cuma sukses dalam urusan dunia. Bagaimana ibadahnya, bagaimana amal shalehnya, itu juga sama penting prioritasnya.”

Ikhwan yang suka dipanggil Ahud ini mengatakan orang cerdas bisa dilihat dari dhahirnya. Apa saja tandanya orang itu cerdas? Kata Ahud yang pertama bisa mengatur waktu. Kedua, bisa menyeimbangkan amal untuk dunia dan akhirat. Ketiga, dari perbuatan baik yang dilakukannya. Lihat saja kebaikannya apa saja, ibadahnya bagaimana, dan yang sering orang cari adalah prestasinya apa saja.

Menurut pendapat putra pertama Bapak Indratno, S.Si. dan Ibu Eni Zulaidah Fathim yang suka banget sama pelajaran sains ini, kecerdasan bisa dibentuk. Ahud menjelaskan argumennya, bahwa setiap manusia lahir ke dunia dalam kondisi yang sama, tidak tahu apa-apa.” Tergantung lingkungannya, positif atau negatif, itu yang akan memengaruhi perkembangan kecerdasannya.“

Lingkungan yang baik, dikatakan Ahud, adalah yang mendukung anak dalam hal pemahaman agama dan penguasaan urusan dunia.( Hmm.. kayaknya t.o.p banget tuh yang bisa dua-duanya yak?) Well, semua itu, kata peraih juara mapel sains/IPA di berbagai lomba ini, bisa dilatih atawa dibentuk. Asal serius dan tekun belajar, plus disiplin tinggi, insya Allah kalian akan jadi orang yang cerdas. Caranya ya... belajar...!

 

Risalatul Amanah, kelas XI-IPA2/Putri SMAIT Nur Hidayah
Namanya nggak begitu asing ya? Siapa sih? Siapa sih? (pada pengen tau kan, ngaku!!) betul yang ngejawab kalau Risa adalah anak SMAIT Nur Hidayah kelas XI-IPA2. (Loh itu kan sudah disebutin di atas, protes donk). Just kidding prens. Dia itu adalah salah satu anggota tim KIR SMAIT Nur Hidayah yang menang dalam lomba KIR LIPI tingkat nasional. Wuihhh, subhanallah. Juara II lagi!! Keren..keren.. oke banget tuh.

Anyway by the way not busway, apa kata dia soal orang yang cerdas? Orang cerdas itu, adalah orang yang tahu tentang dirinya, bisa mengelola emosinya, en mengendalikan diri. Dengan kata lain orang yang cerdas bisa memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya. Akhwat berkacamata minus ini berpendapat cerdas bukan pada masalah IQ-nya tinggi apa rendah. Tetapi yang lebih berperan adalah EQ sama SQ, emotional quotient dan spiritual quotient.

Dengan lugas dia menjelaskan tingkat IQ seseorang bisa naik dan turun, itu satu. Sehingga tidak bisa jadi ukuran cerdas ato nggaknya seseorang. Kedua, tanpa EQ dan SQ yang baik, tingkat IQ tidak akan terlalu berpengaruh positif terhadap kesuksesan seseorang. Dia mencontohkan EQ berupa semangat juang. Jika IQnya tinggi tapi tidak punya semangat juang, nggak akan berhasil. Contoh lain, kedekatan dengan Allah swt. sebagai Pemilik segala urusan. Sanggupkah seseorang dengan IQ tinggi bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa campur tangan Allah? Nonsense.

Kecerdasan erat kaitannya dengan otak. Otak sendiri adalah alat berpikir manusia yang terdiri dari susunan saraf yang mengatur seluruh tubuh. Penggunaan otak yang dilakukan  secara berimbang antara belahan kanan dan belahan kiri membantu orang tersebut menjadi cerdas. Otak akan makin berkembang manakala sering digunakan untuk latihan. Makin sulit latihan soal misalnya, makin banyak pula lipatan dalam otak, yang menandakan meningkatnya kemampuan otak. Karena itu kecerdasan adalah satu hal yang bisa dilatih. “Berlatih menggunakan otak kanan dan kiri dengan seimbang.”

“Kadang orang merasa sudah cukup puas dengan apa yang dicapainya saat ini. Saya bilang seperti itu karena banyak orang terlena di 'zona santai'.” Maksud putri kedua Bapak Syaifullah Wali dan Ibu Sulastri adalah orang sudah merasa nyaman dan enggan melakukan improvisasi/usaha lain agar lebih berkembang. Mereka sudah puas dan terlanjur 'pewe'. Dara kelahiran Surakarta 18 Mei 1993 yang pengen terjun ke bisnis ini melihat banyak orang cerdas dunia memiliki kebiasaan yang bagus seperti shalat malam dan belajar dengan disiplin.  Bendahara II OSIS, redaksi Buletin English Club (EC), dan Ketua Pembinaan Ekstra Jurnalistik di SMAIT Nur Hidayah ini paling senang membaca sejarah bangsa-bangsa besar. Selain menarik, Risa bisa mengambil pelajaran dari perjuangan bangsa-bangsa itu. (Kak If)

Add comment


Security code
Refresh

Statistik Pengunjung

We have 10 guests online
Anda pengunjung ke-
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini75
mod_vvisit_counterKemarin440
mod_vvisit_counterMinggu ini2476
mod_vvisit_counterBulan ini1372
mod_vvisit_counterTotal91972

Konsultsasi Syari'ah

Ust. Kasori Mujahid

Redaksi Online

Amin santoso
:
Setyo
:
Iffah
:
Admin :

Donate Us

NO.138-0093017262
NO.521.00185.22
NO.984 2598-5