Tahukah Anda
Ketika kita memasukkan dampak tersembunyi tersebut ke dalam proses pabrik, sebetulnya setiap 2 hari kita mengkonsumsi material seberat badan kita sendiri!
Setiap pembuatan 1 ton produk, menghasilkan 30 ton sampah.
98% dari semuanya berakhir di tempat sampah dalam waktu 6 bulan.
Kita membayar kenikmatan suatu produk dengan kesehatan dan sumber alam kita yang berharga.
Biaya yang Tersembunyi
Hanya 1 dari 10.000 produk yang ada, didesain dengan memikirkan lingkungan.
Karena budaya konsumen menghujani kita dengan berton-ton sampah, para desainer, pabrik serta konsumen mulai berlomba-lomba untuk melihat lebih jauh lagi mengenai hasil suatu produk dan keuntungan yang dihasilkannya, untuk mempertimbangkan apa saja yang termasuk di dalam proses produksi dan bagaimana mengatasi limbahnya.
Kalangan industri, pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk mengurangi serta mencegah polusi yang akan merusak bumi dan sumber alam di hutan, sungai, dan laut. Perusahan-perusahan menghabiskan jutaan uang untuk marketing dan biaya produksi, padahal sesungguhnya ada hal lain yang lebih penting dan mendesak demi kelangsungan hidup banyak orang dan planet ini.
Meskipun suatu produk terlihat tidak berbahaya, ternyata banyak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh proses produksi dan limbah yang dihasilkannya. Dan efek-efek sampingan ini tidak terlihat oleh konsumen.
Bagaimana Kita Dapat Merubahnya?
Banyak negara Barat yang merasakan dampak dari masalah ini. Puluhan tahun lalu daerah perkotaan, laut dan sungai terkontaminasi oleh banyaknya material berbahaya dan beracun yang tidak terkontrol, yang dibuang oleh pabrik dan industri. Cara berpikir kemudian berubah, demikian juga dengan peraturan pemerintah. Seperti yang saya ketahui, saya dapat mengatakan bahwa pada tahun 80-an kota-kota seperti Minneapolis, Amerika mengeluarkan hukum yang menyatakan bahwa hanya produk yang dapat didaur-ulang yang boleh dijual di sana. Radikal, tetapi itulah yang harus dilakukan agar sungai-sungai, udara serta kota tersebut tetap terjaga kebersihannya. Hal ini juga membutuhkan perubahan cara berpikir kalangan industri agar lebih bertanggung jawab terhadap pengrusakan lingkungan oleh sampah/limbah.
Beberapa negara Asia juga belajar dari pengalaman dunia barat. Taiwan, Bangladesh dan Bhutan sudah melarang penggunaan tas plastik.
Sampah di Mana-Mana
Dengan menciptakan produk yang berkualitas kepada konsumen dan menghasilkan keuntungan, sebetulnya produsen hanya melakukan setengah dari pekerjaan mereka.
Bagaimana dengan sampahnya? Siapa yang bertanggung jawab untuk membersihkannya?
Kita tidak dapat memperbaiki masalah ini dengan cara pikir yang sama seperti di masa lalu dan terus menerus mengabaikan kerusakan yang disebabkannya. Ide-ide yang inovatif tentang marketing dan pemutaran produksi harus mengikut-sertakan cara pengolahan sampah dari kemasannya.
Tanggung Jawab Sosial Perusahan
Apa yang dimaksud dengan tanggung jawab sosial perusahaan?
Artinya adalah cara-cara baru dan berbeda dari perusahaan untuk peduli terhadap konsumen, untuk memastikan agar beban berat dari budaya konsumen kita nantinya tidak jatuh di pundak mereka. Perusahaan bisa DAN HARUS mengembangkan, juga mensponsori program-program daur-ulang untuk masyarakat dan meningkatkan kesadaran lingkungan untuk anak-anak.
Gerakan ini akan memperdalam kesetiaan konsumen terhadap suatu produk, dan bukan justru menjauhkannya.
KEPEDULIAN TERHADAP MASYARAKAT BUKAN HANYA sekedar iklan yang baik. Namun hal tersebut juga harus dituangkan ke dalam MISI dan VISI perusahaan dan harus dibangun secara etis ke dalam TANGGUNGJAWAB PERUSAHAAN.
Sampah adalah sumber material yang sangat besar dan tidak pernah tersentuh, yang bisa dan harus digunakan lagi dengan berbagai cara, mulai dari tingkat perkampungan hingga ke teknik pengolahan daur ulang yang lebih maju. Kita harus memperluas pandangan kita terhadap hasil akhir suatu produk serta keuntungan yang didapat, dengan mengikutsertakan pertimbangan tentang bumi kita di masa depan.
Hal ini membutuhkan suatu inovasi yang BERANI, serta PERUBAHAN PERSEPSI – VISI.
Manusia adalah satu-satunya mahluk hidup yang dapat menghasilkan sampah – sesuatu yang paling tidak diinginkan mahluk hidup lainnya di muka bumi”.
Manusia juga merupakan satu-satunya mahluk hidup yang dapat membersihkan sampah dengan baik.
*Note : Penulis adalah pemerhati, peduli lingkungan hidup – Jakarta.
Addendum
§ Tanpa pengelolaan yang baik, Jakarta dalam beberapa tahun mendatang setiap harinya membutuhkan 1.390.000 truk sampah, yang bila diparkir memanjang, maka panjangnya akan mencapai 8.340 km atau 10 kali panjang Pulau Jawa!
§ Setiap hari, warga Jakarta menghamburkan uang lebih dari Rp 100.000.000,- dengan membuang kantung kresek
§ Plastik merupakan sampah dengan jumlah terbesar kedua setelah sampah organik.
Komposisi sampah warga Jakarta:
Organik 60%
Plastik 11%
Kertas 10%
Kayu 3%
Kain 2,5%
Logam 2%
Kaca 1%
Lain-lain 10,5%
§ Saat ini, warga Jakarta telah menghabiskan lahan lebih dari 118 hektar untuk tempat pembuangan sampah.
§ Setiap hari, Jakarta dibebani sampah seberat 6,995,000 kg. Dan 58% di antaranya berasal dari rumah kita!
Bagaimana dengan kota lain, khususnya kota Solo?















