Bekerja menjadi guru banyak sekali suka-dukanya, terkadang kita sangat bersemangat hari itu, mungkin karena hari itu adalah hari yang bersejarah bagi kita. Ulang tahun, tanggal muda, berseragam baru atau hari itu adalah hari penerimaan raport anak didik dan besoknya libur panjang. Bisa juga hari itu adalah hari yang menyenangkan kita karena suami baru saja memberi surprise sebuah sepeda motor matic , meskipun tiap bulan kita masih harus mengangsurnya. Yang penting suami gak repot lagi nganter kita atau nggak harus lagi berdesak-desakan di tengah bus kota dengan berbagai macam parfum di aduk-aduk menjadi satu.
Namun bukan tidak mungkin kita pasti juga pernah sesekali merasa bête, jenuh , males, loyo, dan tidak bersemangat. Dan mestinya banyak sebab, mungkin badan kita pas agak kurang sehat, lagi banyak tugas, suami atau istri kita baru ngambek di tambah lagi saldo di ATM mendekati angka nol. Belum kalau kita kebagian kelas yang menurut kita susah sekali untuk diatur. Maka bête dan kawan-kawanya tersebut akan makin angkrem (tenang) di dalam diri kita. Kadang semangat, kadang bête adalah hal yang sudah biasa, yang tidak biasa adalah ketika kita rasa negatif yang ada pada diri kita baru memengaruhi pertahanan semangat kita. Lalu kita pasrah saja dan tidak mengadakan perlawanan terhadap pengaruh tersebut. Hasilnya adalah kita akan merasa berat untuk menyalakan semangat kembali.
Dan salah satu jalan untuk keluar dari itu adalah melawan perasaan-perasaan negatif tersebut. Kita bisa berusaha dengan hal-hal kecil sebagai berikut, misalnya dengan selalu memvisualisasikan kata semangat itu dalam otak kita, bisa juga kita verbalkan setiap saat, seperti yang dilakukan Han Ji-eun dan Yeong Jae (tokoh utama film asia yang berjudul Full House) , atau merenungkan kembali tujuan kita menjadi guru, kemudian menggali lagi spirit-spirit yang pernah nyantol di kepala kita sehingga kita bisa menjadi guru sampai saat ini.
Ada satu spirit menarik dari Rasulullah saw. bahwa kita semua adalah penebar kebaikan atau kalau dalam bahasa multi level marketing (MLM) adalah upline kebaikan. Mengapa demikian? Marilah kita kembali menengok sebuah hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Muslim yang terjemahannya adalah sebagai berikut :
“Barang siapa dalam Islam menebarkan satu kebaikan, maka baginya pahala dan akan mendapatkan pahala dari orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya. Dan barang siapa dalam Islam menebarkan satu keburukan, maka baginya dosa dan akan mendapatkan dosa dari orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa orang yang mengamalkannya .” (H.R. Muslim )
Karena guru juga termasuk salah satu penebar kebaikan atau upline kebaikan , marilah kita bersiap-siap untuk menerima bonus –bonus kebaikan yang kita dapatkan dari murid-murid kita yang selalu mengamalkan apa yang kita ajarkan kepada mereka, mengapa?, karena mereka adalah downline kita. Misalnya kita mencoba untuk menghitung pahala waktu mengajarkan “Bismillahirrahmanirrahiim (basmalah)” , ada 19 huruf, jika 1 huruf 10 kebaikan maka kita mendapatkan 190 kebaikan, dikalikan minimal 17 raka'at waktu shalat dalam sehari ada 3230, kemudian di kalikan lagi 2 karena setiap rakaat ada bacaan basmalah 2 kali yaitu ketika kita hendak membaca surat Al Fatihah dan surat pilihan setelah surat Al Fatihah. Jadi setiap hari pahala kita mengajarkan basmalah kepada satu orang anak kita yang mengamalkannya adalah 6460 kebaikan, itu baru basmalah saja, belum surat yang lainnya, belum juga hal-hal lain yang kita ajarkan, Belum lagi dikali berapa hari dan berapa banyak anak yang telah kita ajari. Namun jika kita tidak menghitungnyapun Allah tidak akan pernah lupa terhadap janji-janjiNya. Innallaaha laa tuhliful mii'aad. Wallahu a'lam bishshawwab.
*) Kepala PG & TKIT Nur Hidayah
Guru; Upline Kebaikan












