Siapa sahabat kita bisa menjadi cerminan siapa diri kita. Itulah anjuran disampaikan Rasulullah saw. Agar kita berhati-hati dalam memilih teman atau sahabat. Berteman dengan orang baik diibaratkan seperti kita bergaul dengan penjual minyak wangi, harum bau wanginya sampai ke tubuh kita.
Dan sebaliknya, berteman dengan orang yang kurang akhlak seperti bergaul dengan tukang pandai besi. Kita ikut merasakan panas tungku di dekatnya dan tercium bau abu pula dari tubuh kita. Agaknya ini saja cukup menjadi panduan bagi kita dalam bergaul, mengenal banyak orang, dan menentukan siapa saja yang akan kita jadikan sahabat. But anyway guys, Ustadz Rahardjo, S.T.P. Guru TIK di SMAIT Nur Hidayah punya pendapat dan tips khusus yang bisa kalian jadikan panduan dalam memilih sahabat. Pertama, klasifikasikan setiap orang yang kita kenal sebagai teman/kenalan, sahabat biasa, sahabat karib, atau sahabat istimewa/pasangan hidup. Dari sekian banyak orang yang kita kenal tentu saja tidak semua lantas kita jadikan sahabat begitu saja. Boleh saja berteman dengan siapapun, tapi untuk jadi sahabat? Tunggu dulu, tidak sembarangan kata ustadz yang lebih akrab disapa Ustadz Jojo ini. “Karena sahabat kita adalah cerminan diri kita dan kita adalah cermin bagi orang lain,” begitu kata Ustadz Jojo. Artinya, kalau sahabat kita baik, kita bisa dianggap baik juga. Dan sebaliknya jika sahabat kita kurang baik, maka demikian pula anggapan orang terhadap kita. Begitu pula sebaliknya. Meskipun demikian, bukan berarti kita terus membatasi pergaulan dengan orang lain.
Lebih lanjut persahabatan dikatakannya terbangung karena ikatan jiwa. “Hubungan persahabatan ada karena adanya kontak jiwa antarorang-orang yang bersahabat itu. Karenanya hubungan yang terbangun lebih khusus daripada sekadar teman atau kenalan biasa. Ada komunikasi jiwa…” Apa maksudnya ya?
Ustadz Jojo menyarankan kepada kita semua sebagai muslim agar sebaiknya memilih sahabat dari kalangan muslim juga. Kepada setiap orang hendaknya kita perlakukan mereka sesuai dengan tingkatan atau klasifikasi yang telah dibuat tadi, teman/kenalan, sahabat biasa, sahabat karib, sahabat istimewa? Tentu saja masing-masing beda perlakuannya karena di hati kita, posisi mereka jelas beda.
Ini dia tips kedua, patuhilah aturan yang sudah diberikan Allah swt. Misalnya dalam bergaul seperti yang sekarang lagi kita bahas, jangan melampaui batas yang sudah dilarang Allah swt. ikhwan sama akhwat nggak bisa dong bebas bergaul seperti halnya dengan sesama ikhwan atawa sesama akhwat. Berikan porsi yang sesuai dengan kadarnya, jangan lebih sehingga bisa disalahartikan.
Bahkan Ikatan Hati Terasa Meski Jarang Berjumpa
Ketiga, ingat-ingat petunjuk Allah dalam bergaul atau memilih sahabat. Allah swt. sudah sangat jelas berfirman dalam Al-Qur'an, sesungguhnya yang menyatukan hati orang yang beriman hanyalah Allah… berarti Dia pula yang membuat kita dan sahabat-sahabat kita nyatu banget. Karena itu, mutlak buat kita untuk selalu menjaga kedekatan kita dengan Allah. Persahabatan atau hubungan yang dilandasi cinta kepada Allah pastinya diawali dengan kecintaan tiap pribadi kepada-Nya kan? Efeknya, subhanallah… kerasa sampai ke hati.
“Saya meyakini benar persahabatan yang tulus dibangun atas dasar cinta kepada Allah. Dan Allah swt. yang telah menyatukan hati saya dan sahabat-sahabat saya. Kami pernah bertemu dalam suatu komunitas dan lama sekali tidak berjumpa. Pada suatu ketika saya merasa gundah, hati ini tidak enak serasa ada sesuatu yang ganjil. Keinginan hati waktu itu adalah mengetahui kabar sahabat-sahabat saya itu. Benarlah waktu saya menghubungi langsung lewat telepon, ternyata mereka memang ada masalah. Pengalaman ini menambah keyakinan saya bahwa betapa seseorang sangat tidak bisa mereka-reka persahabatan sekehendak hatinya, tetapi Allah yang pegang kunci setiap hati kita…”
Keempat, lakukan komunikasi sesering mungkin. Sekali lagi hal ini harus disesuaikan dengan posisi atau tingkatan sahabat di hati kita. Komunikasi dengan pasangan hidup tentu saja sangat penting, bahkan mengabaikannya saja dapat menjadi pemicu masalah yang jauh lebih besar. Tetapi komunikasi dengan teman biasa cukup dengan mengucap salam atau menanyakan kabar.
Kelima, luangkan waktu khusus untuk bersilaturrahim. Silaturrahim bisa secara fisik, berjumpa langsung atau melalui teknologi yang sudah ada. Tetapi menurut Ustadz Jojo, efeknya akan lain jika kita sering berjumpa dengan sahabat kita, bersalaman, saling bertukar pikiran atau bahkan curhat.
Keenam, saling mendoakan. Ingat tips yang ketiga? Ikatan hati yang terjalin antara kita dan sahabat kita ada karena Allah yang mentautkannya. Karena itu, peliharalah dengan selalu berdoa kepada Allah agar persahabatan itu terus terbina dan terpelihara tak hanya di dunia, tapi hingga ke surga. Ini juga merupakan upaya kita untuk menjaga kedekatan dengan Allah swt. Yang perlu diperhatikan, setiap muslim pada dasarnya adalah bersaudara, siapapun, di manapun. Karena itu, sangat diajurkan kita saling mendoakan, baik yang kita kenal maupun tidak. Ikut merasakan penderitaan saudara muslim yang teraniaya dengan mendoakan keselamatan dan kebaikannya, merupakan salah satu bentuk ikatan hati-hati kita. Begitu juga ikut merasakan kebahagiaan muslim yang mendapat karunia Allah swt. dengan ikut bersyukur. (Kak If)
















