Saturday, Sep 04th

Last update07:38:14 PM GMT

You are here:: Mutiara Hadits Proses Kejadian Manusia dan Takdirnya

Proses Kejadian Manusia dan Takdirnya

E-mail Print PDF

Dari Abdullah bin Mas'ud r.a, ia berkata bahwa Rasulullah saw. telah menceritakan kepada kami dan beliau adalah orang yang paling benar dan dibenarkan perkataannya, “Sesungguhnya sebagian kalian dikumpulkan bahan ciptaannya di rahim ibunya 40 hari dalam bentuk nuthfah. Kemudian menjadi 'alaqah dalam masa yang sama (40 hari), kemudian menjadi mudghah dalam masa yang sama (40 hari). Kemudian Allah mengutus malaikat kepada ciptaan itu, lalu malaikat meniupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menuliskan empat ketetapan; ketetapan rezki; amal perbuatannya; ajal usianya; dan nasibnya di akhirat, sengsara (penghuni neraka) atau bahagia (penghuni surga). Demi Zat yang tidak ada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada salah seorang dari kalian yang melakukan perbuatan penghuni surga hingga antara jarak antara dia dengan surga sejauh satu hasta, lalu catatan takdirnya yang lebih dulu telah menggariskan hingga ia melakukan perbuatan penghuni neraka dan (akhirnya) ia masuk ke dalam neraka. Dan sesungguhnya ada orang yang melakukan perbuatan penghuni neraka hingga jarak antara dia dengan neraka sejauh satu hasta, lalu catatan takdirnya yang lebih dulu telah menggariskan, hingga ia melakukan perbuatan penghuni surga dan (akhirnya) ia masuk ke dalam surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Pelajaran Dari Hadits
Pelajaran pertama : Matan bunyi hadits ini diawali dengan penegasan parsial yang tidak menyeluruh, yaitu ????? ?????????? (Sesungguhnya salah seorang kalian). Ungkapan ini adalah ungkapan yang sangat bijak dari Rasulullah saw. dan ungkapan yang komitmen dengan ilmu yang dimilikinya. Ungkapan ini menegaskan bahwa sebagian manusia diciptakan Allah dengan proses yang disebutkan di dalam hadits dan sebagian lainnya Allah sendiri yang menciptakannya.
Proses penciptaan Adam dan Hawa tidaklah sama dengan proses penciptaan anak keturunannya. Nabi Adam diciptakan langsung oleh Allah seperti yang diceritakan di dalam Al-Qur'an Surah al-Hijr ayat 28-29 atau Surah Shad ayat 71-72.
Tidak seperti proses penciptaan anak keturunan Adam, Nabi Adam diciptakan Allah dari tanah atau tanah liat atau lumpur hitam seperti disebutkan dalam ayat-ayat di atas dan kemudian Allah menyempurnakannya, lalu Allah juga yang meniupkan ruh ke dalam jasad Adam a.s.
Dalam proses penciptaan manusia, seperti disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa tiap fase penciptaan 40 harian itu, Allah mewakilkannya kepada malaikat untuk menyempurnakan proses, hingga pada 40 hari yang ketiga Allah mengutus malaikat yang akan meniupkan ruh ke dalam jasad manusia dan mencatat empat ketetapan Allah dari Lauhil Mahfuzh, ketetapan rezki, amal perbuatan, usia dan nasibnya di akhirat. Dengan demikian, maka ungkapan khalaqnaa sangat tepat untuk menunjukkan bahwa dalam proses penciptaan manusia, Allah kuasa untuk mewakilkannya kepada malaikat-Nya. Itulah kekuasaan Allah. Allah mampu menciptakan manusia tanpa diwakilkan dan mampu pula menciptakan manusia melalui perwakilan-Nya. Sungguh Allah Maha Berkuasa dalam segala sesuatu.
Hadits ini juga membuktikan kebenaran ajaran Islam, karena sebelum dunia kedokteran mengetahui proses penciptaan manusia, Allah telah mengabarkan manusia melalui lisan nabi Muhammad saw.
Pelajaran Kedua : Manusia tidak tahu apa-apa dengan nasib orang lain. Ada yang sejak muda hingga dewasa dikenal masyarakat sebagai orang baik, orang shalih, ternyata di sisi Allah dia termasuk penghuni neraka. Ia menutup usianya dengan perbuatan penghuni neraka hingga ia termasuk penghuni neraka.
Ungkapan
?????????? ???????? ?????? ???????? ????????????? dan ?????????? ???????? ?????? ?????????? ????????????? disebutkan dalam riwayat lain dengan ungkapan
????????? ???????? ?????? ???????? ????????????? (kemudian ia tutup dengan perbuatan penghuni neraka dan ia masuk ke dalam neraka) menunjukkan bahwa kebaikan itu akan kekal dengan keikhlasan, sebagaimana pahala amal shalih akan langgeng, tidak berkurang jika tetap dijaga keikhlasan; sebelum berbuat, saat berbuat dan setelah berbuat.
Jika seseorang hanya ikhlas ketika akan berbuat, maka belum ada jaminan pahala yang ia dapatkan akan sempurna, karena bisa saja ia merusak keikhlasan itu dengan riya (ingin dilihat orang lain), atau dengan kata-kata yang menyakiti orang lain yang kita bantu atau lain perbuatan yang bisa merusak pahala amal.
Karena itulah ada orang yang dikenal masyarakat sebagai orang baik, tetapi di sisi Allah ia hanyalah orang yang mengharapkan pujian manusia.
Sebaliknya ada juga orang yang sulit berbuat baik, karena lingkungan atau sebab lain sehingga masyarakat memvonis dan memberi cap kepadanya sebagai orang tidak baik atau orang jahat. Tetapi siapa yang tahu takdir orang, kalau ternyata Allah justru telah menetapkan dia sebagai penghuni surga, maka ia pasti akan menemukan saat dan tempat yang tepat untuk bertobat dan berbuat baik hingga Allah menjemput ajalnya.
Jika manusia mengetahui sesuatu setelah kejadian, maka Allah Maha Mengetahui tentang segala kejadian. Sebelum, saat dan setelah kejadian Allah Maha Mengetahui. Pengetahuan Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kekuasaan Allah tidak dibatasi oleh dimensi apapun. Berbeda dengan manusia yang serba terbatas. Manusia dibatasi dimensi waktu, sehingga kejadian esok tidaklah diketahuinya kecuali ketika saatnya tiba. Manusia juga dibatasi oleh dimensi ruang, kejadian di Jakarta tidak akan diketahuinya ketika ia berada tidak pada tempat kejadian.
Pelajaran Ketiga : Hal penting yang perlu ditekankan dan ditegaskan adalah perkara rezeki. Allah berjanji akan memberikan rezeki kepada siapa saja makhluk-Nya di muka bumi. Dalam surah Hud ayat 6 disebutkan “Dan tidak ada makhluk hidup di muka bumi ini, kecuali Allah yang akan memberikan rezekinya. Dan Dia mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya.”
Kalau kita cermati, kita tidak akan cepat menyalahkan takdir atau menyalahkan Allah, ketika kita disempitkan rezeki oleh Allah. Pemberian rezeki bukanlah ukuran kecintaan Allah kepada manusia, karena semua makhluk pasti akan diberikan rezeki. Kita tidak boleh berbangga dengan limpahan rezeki dan tidak boleh berkecil hati dengan rezki yang pas-pasan. Tiap manusia mempunyai jatah rezeki yang berbeda dengan jatah orang lain.
Orang lain tidak akan bisa merebut rezeki orang lain. Inilah ungkapan puncak ma'rifah kepada kekuasaan Allah seperti yang diungkapkan oleh Imam Hasan al-Bashri ketika ditanya oleh muridnya, “Wahai guruku, apa rahasia zuhud baginda?” Kemudian Syeikh memberikan 4 rahasia dan salah satu rahasianya adalah “aku tahu bahwa rezekiku tidak akan diambil oleh orang lain, maka hatiku menjadi tenang.”
Ketenangan mengarungi kehidupan adalah modal untuk sampai kepada tujuan. Hati yang tenang akan banyak menyelesaikan permasalahan. Ketenangan tidak akan datang dengan sendiri. Ketenangan adalah puncak dari keimanan dan ingat kepada Allah, iman yang didasari ma'rifah dan ingat akan kehambaannya di sisi Allah Ta'ala. (Arr)

Add comment


Security code
Refresh

Statistik Pengunjung

We have 8 guests online
Anda pengunjung ke-
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini70
mod_vvisit_counterKemarin440
mod_vvisit_counterMinggu ini2471
mod_vvisit_counterBulan ini1367
mod_vvisit_counterTotal91966

Konsultsasi Syari'ah

Ust. Kasori Mujahid

Redaksi Online

Amin santoso
:
Setyo
:
Iffah
:
Admin :

Donate Us

NO.138-0093017262
NO.521.00185.22
NO.984 2598-5