Bagi orang kebanyakan, sampah adalah sisa kehidupan yang sudah tidak ada nilainya karena tidak ada gunanya. Sesegera mungkin orang berniat menyingkirkan sampah dari rumahnya karena makin banyak yang menumpuk di rumah makin membuat tidak nyaman. Baunya yang tidak sedap mengundang lalat berseliweran di dalam rumah, bernafas pun tak segar, itu artinya sama saja dengan mengundang penyakit.
Sampah adalah masalah bagi sebagian pihak, tetapi menjadi begitu bernilai bagi sebagian orang lainnya. Berbeda dengan kebanyakan orang, pemulung justru akrab dan sangat betah tinggal berlama-lama dekat tumpukan sampah, bahkan TPS atau Tempat Pembuangan Sementara. Dan keberadaan mereka yang sering dipandang sebelah mata, ternyata punya cerita untuk dunia. Seringkali orang memiliki persepsi negatif terhadap keberadaan pemulung. Buktinya, di berbagai sudut kota, di gang-gang perumahan terpampang tulisan "pemulung dilarang masuk". Mengapa banyak orang tidak ingin dekat-dekat dengan pemulung, apakah karena mereka kotor? Bau? Atau ada hal lain?Seorang pemulung dengan jujur berkata, "Saya sudah tahu ada tulisan 'pemulung dilarang masuk', tapi saya nekat melewati jalan itu karena saya pikir dengan jalan pintas bisa menghemat waktu saya sampai ke tempat pengepul rosok." Waktu itu seorang penghuni komplek menegur dengan keras pemulung yang bernama Pak Ari itu. Dia prihatin, keberadaannya sebagai pemulung kurang dihargai orang lain. "Pemulung kan juga manusia," kata bapak itu menirukan jargon yang ditenarkan sebuah grup band beraliran rock.
Bapak tiga anak itu setiap hari berjalan kaki menyusuri jalanan memungut satu demi satu sampah yang bisa dijual. Botol minuman, kemasan gelas, kertas, dus, syukur-syukur dapat yang bernilai lebih seperti kaleng atau bahan logam. Berjalan di sepanjang jalan Slamet Riyadi, kadang-kadang Pak Ari juga masuk ke gang-gang mengacak tempat sampah, melihat adakah barang yang bisa 'diselamatkan'.
Dari hasil 'perjalanannya' itu tidak setiap hari dia pulang membawa uang. Bahkan sekadar untuk makan ketiga anaknya yang tinggal di klaten. Saat musim hujan seperti ini, Pak Ari sering tidur di salah satu masjid di daerah Tegalsari. Untung anak-anaknya dapat memahami, jika bapaknya tidak bisa pulang artinya tidak ada uang untuk pulang atau untuk dibawa pulang.
Lain cerita dengan ibu S bersama suaminya, pak T. Bu S berprofesi sebagai pemulung 'lokal', artinya pemulung yang tidak perlu berjalan ke sana ke mari mengorek tempat sampah satu ke yang lain. Bu S dan Pak T cukup menunggui sebuah TPS di daerah Gonilan dan sampah datang gerobak demi gerobak. Kadang orang datang sendiri membuang kantong-kantong penuh berisi sampah dari rumahnya.
Mengais Rezeki yang Halal dari Tumpukan Sampah
Hidup berdekatan dengan sampah membuat Bu S dan Pak T terbiasa dengan bau sampah. Beberapa orang yang peduli berusaha menasehati agar mereka menggunakan masker demi kesehatan. "Risih, sudah biasa begini," jawab Bu S. Alhamdulillah Bu S dan keluarga jarang sakit. Bahkan kini anaknya sudah 9, yang paling kecil masih berusia lima bulan. Masya Allah.
Dari hasil menunggui TPS, tempat yang orang umumnya tidak ingin lama-lama di sana, Bu S dan Pak T dapat menghidupi keenam anaknya. menyekolahkan kembali anak yang sempat putus sekolah, dan membayar angsuran motor. Dalam waktu lima hari atau seminggu, tergantung pada perolehan barang, Pak T memperoleh penghasilan 300-500 ribu rupiah. Pak T menyetorkan hasil kerja kerasnya memilah sampah kepada seorang pengepul besar di daerah Nusukan. Diperkirakan dalam sebulan Pak T bisa mendapatkan 1 juta lebih. Jumlah yang tidak mungkin diperolehnya jika dia bekerja sebagai buruh bangunan, profesi yang pernah dilakoninya.
Bu S dan Pak T adalah tipikal orang yang ulet dan sabar.
Mereka pernah ditolak warga sekitar waktu mereka membawa pulang karung-karung berisi sampah yang sudah dipilah, "Baunya mengganggu warga". Akhirnya Allah berikan jalan keluar. Sebuah rumah setengah jadi di dekat TPS tempatnya bekerja, bisa dikontrak untuk tempat tinggal bersama enam orang anaknya. Selain untuk tempat tinggal, rumah itu juga untuk menyimpan beberapa karung sampah yang perlu diamankan dari tangan-tangan jahil. Pernah lima karung besar sampahnya hilang dibawa lari pemulung lain. "Biarin, dia juga butuh uang," kata Pak T.
Ada lagi cerita lainnya. Pak Yuli adalah seorang mantan penjudi yang sudah insaf. Di saat-saat hampir di titik nadirnya itulah, Pak Yuli mendapat ilham untuk memulai usaha sebagai pengepul rosok/sampah. Walaupun tidak ada pengalaman sama sekali dan harga rosok waktu itu sedang turun, Pak Yuli nekat saja.
Tiga tahun cukup bagi bapak beranak satu ini untuk berkembang. Usahanya diberi kemudahan oleh Allah. Dibantu istri, adik,dan keponakan, Pak Yuli kini dapat berbagi rezeki dengan pemulung-pemulung yang setor ke tempatnya. Pak Yuli hanya mengambil sedikit untung dari barang-barang yang disetorkan kepadanya. Peran Pak Yuli lebih sebagai jual-beli sampah, besarnya keuntungan tergantung pada naik-turunnya harga pasar. Satu kilo plastik kemasan gelas air mineral yang disetorkan pemulung dihargai Rp. 4.000. Pak Yuli kadang hanya mengambil untung Rp 200 perkilo saat menyetorkan ke pengepul besar atau bos daur ulang.
Berbekal keuletan, ketelatenan, dan kesabaran, usaha Pak Yuli kini terhitung mapan. Walaupun mungkin tidak seberapa, tapi setiap bulan dia menyisihkan rezeki dan berbagi dengan pemulung. Beras 2 kilogram atau sekadar makan siang untuk pemulung yang tidak berkeluarga, selalu dia berikan. Itu semua membuat Pak Yuli bersyukur. Kini hidupnya terasa nyaman dan tenang. tidak seperti dulu waktu jadi penjudi. Banyaknya uang tidak bisa menentramkan hati. Kini, sedikit saja sudah bisa berbagi atau sedekah, "Senang sekali rasanya."
Solusi Ganda
Bos daur ulang Pak Yuli di Pasarkliwon, sebut saja Ibu Mur, barangkali sudah bisa disamakan dengan pengusaha kelas atas. Bedanya, barang yang dikelolanya adalah sampah. Bu Mur melanjutkan usaha mendiang suaminya, Pak Aa', pemilik pabrik daur ulang terbesar di Solo. Bahkan sampah plastik yang jadi bahan daur ulang itu datang dari berbagai daerah seperti Pati, Semarang, dan Demak. Bayangkan, sampah plastik (keras) yang terkumpul di tempat Bu Mur terlihat menggunung di samping karung-karung besar. Bahkan tingginya hampir 5 meter. Gunungan sampah tersebut telah menjadi sumber penghidupan 25 orang yang bekerja di tempat Bu Mur.
Tahukah Anda, bahwa sampah plastik yang Anda buang dari bungkus makanan, baru akan terurai secara alami sesudah 1000 tahun? Betapa bumi ini akan dipenuhi sampah plastik dan sampah sejenisnya? Bahkan kita sendiri sudah tidak di dunia ini saat sampah yang kita hasilkan bisa terurai habis. Na'udzubillah mindzalik. Ini tentu masalah kita semua. Usaha daur ulang yang dijalankan Bu Mur adalah salah satu contoh tindakan solutif. Selain memberi lapangan kerja, sampah plastik dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat dan mengurangi volume sampah yang sulit terurai.
Menumpuknya sampah yang dihasilkan oleh 1 milyar lebih populasi manusia akan menjadi bahaya yang mengancam dalam jangka waktu pendek, jika tidak ada peran pemulung dan proses daur ulang. Panas yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah dalam kadarnya menyumbang dalam pemanasan global atau dikenal dengan global warming. Kenaikan suhu bumi setiap tahun dalam dua dekade terakhir menyisakan PR besar untuk manusia. Gunung es sudah mencair, permukaan air laut naik sekian centimeter, dan sinar matahari masuk lebih dahsyat ke dalam atmosfer bumi karena adanya lubang di lapisan ozon, hendak tinggal di mana manusia jika kerusakan ini tidak tertangani sejak dari sekarang? (If)
Sumber: hasil olah wawancara
Sisi Lain Sampah, Sisa Kehidupan












