Majalah Nur Hidayah

Media Mencerdaskan Umat

Thursday
Mar 11th
Home Kolom Keluarga Globalisasi: Menggeser Nilai-Nilai Kearifan

Globalisasi: Menggeser Nilai-Nilai Kearifan

E-mail Cetak PDF
Pendidikan Keluarga
Jika mencermati substansi pendidikan keluarga, kita dengan mudah menemukan betapa setiap orang tua mengajarkan kepada anak-anaknya sifat-sifat yang sarat mengandung nilai kepahlawanan. Bahkan semasa masih di kandungan, setiap saat calon bayi didoakan agar kelak menjadi anak yang saleh, yang berbakti kepada orang tua, serta berguna bagi nusa, bangsa dan agama.
Begitu lahir, anak dimuliakan dengan berbagai ritual religius kultural. Semua handai taulan dan tetangga hadir, dimohon ikut mendoakan segala yang terbaik untuk sang bayi. Setiap saat orang tua mengajar anak untuk senantiasa berbuat baik, misalnya suka menolong, membagi makanan kepada teman, bersikap ramah dan menjamu tamu dengan baik, memberikan kelonggaran jalan atau tempat duduk kepada yang lebih tua, memelihara tanaman dengan menyiramnya secara teratur, melarang memetik daun atau menebang ranting secara sembarangan, dan melarang menyakiti binatang.
Anak-anak selalu diminta patuh dan mendengarkan nasihat orang yang lebih tua, patuh dan tekun menjalankan kewajiban agama, rajin belajar supaya pandai dan berhasil menjadi "orang".
Nilai-nilai kebaikan dalam pendidikan keluarga, diharapkan menjadi bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan anak. Namun kenyataannya tidak semua anak tumbuh sehat menjadi "orang". Dikarenakan pengaruh lingkungan yang sangat kuat, anak tumbuh di luar kontrol orang tua, jauh dari yang diharapkan. Bahkan sebagian malah menjadi "momok" bagi keluarga dan lingkungannya. Melawan orang tua, semau gue, sekolah rak genah, terlibat penyalahgunaan narkoba, bahkan kriminal.
Semua tak terbayangkan sebelumnya. Tidak sedikit pun tersisa keberadaan nilai-nilai kepahlawanan yang dulu setiap hari menjadi bisikan nurani orang tua sejak si anak masih dalam kandungan. Apa yang salah?
Lingkungan Global
Kesalahan tidak bisa ditumpukan kepada anak semata, ada peran orang tua, sekolah, masyarakat dan sangat mungkin sebab utamanya adalah lingkungan global yang tidak lagi ramah, yang menggilas tidak cuma anak-anak kita, tapi juga kita sendiri sebagai orang tua dan orang yang dituakan. Tetapi tidak fair menyalahkan lingkungan, sebab ia ada "sesuai" dengan desain kita.
Orang tua seharusnya merasa bersalah karena ketidak mampuannya mendidik dan mengontrol anak dalam proporsi yang tepat. Tidak kurang dan tidak lebih. Keasyikannya dengan kerja yang semula dimaksudkan sebagai kewajiban luhur memenuhi kebutuhan materiil keluarga menggeser nilai kebersamaan dengan keluarga menjadi nomor sekian.
Itulah awal bencana, yakni ketika anak kemudian beralih dan menghabiskan waktu bersama "pengasuh alternatif" berupa berbagai fasilitas kehidupan modern: televisi, play station, telepon seluler, internet, dugem (dunia gemerlap) dan akhirnya narkoba.
Sekolah sudah tentu sangat terbatas kemampuannya. Apalagi rasio guru dan murid masih belum proporsional. Sebagian kalangan bahkan mengkhawatirkan sekolah kini mengalami reduksi peran hanya sebagai lembaga pengajaran (transfer of knowledge) ketimbang sebagai lembaga pendidikan (transfer of values).
Adapun masyarakat, jangan diharapkan dapat memberikan perlindungan bagi anak-anak. Pengaruh global telah mengubah masyarakat menjadi medan belantara budaya yang meminggirkan nilai-nilai kearifan lokal. Lingkungan global itu menawarkan seribu satu kenikmatan dunia dan semua kebebasan yang ada. Tidak ada instrumen yang benar-benar efektif mampu membatasi pengaruhnya. Ia bebas menelusup ke ruang-ruang privasi setiap orang, menawarkan hedonisme, materialisme, konsumerisme, dan pragmatisme. Semua paham yang secara mendasar bertentangan dengan nilai-nilai kepahlawanan.
Kembali ke Rumah
Kegagalan pendidikan keluarga dalam penanaman dan pewarisan nilai-nilai kepahlawanan, menjadi penyokong utama kegagalan pembangunan karakter bangsa (nation character building). Maka tidak perlu heran, bila sebagian kalangan berpendapat, kita makin sulit menemukan keteladanan karena sebagian tokoh tidak berkarakter dan tidak patut diteladani.
Belakangan juga muncul wacana makin rendahnya nasionalisme dan kebanggaan sebagai bangsa. Hasil sebuah jajak pendapat menyebutkan, kebanggaan kita sebagai orang Indonesia berkurang dari tahun ke tahun.
Fenomena itu sekaligus menunjukkan belum efektifnya upaya penanaman dan pewarisan nilai-nilai kepahlawanan, khususnya dalam keluarga. Dengan demikian ada produk generasi yang secara fardhu kifayah seharusnya melahirkan (tokoh) keteladanan, tapi ternyata tidak mampu mengemban amanah tersebut.
Oleh karena itu, marilah kita to think globally to act locally. Berpikir besar, tapi bertindaklah mulai dari yang kecil-kecil. Mari kita kembali ke rumah, sebab baitti jannati, rumahku adalah istanaku. Di rumah itulah, kita berkuasa penuh untuk mengatur dan membantu anak-anak memahami, menyeleksi, dan menghindari pengaruh buruk lingkungan global. Untuk menguatkan reinternalisasi nilai-nilai kebaikan hidup sebagai dasar tumbuhnya nilai-nilai kepahlawanan yang akan melekat selama hayat mereka.
Mari kita merenda kembali kebersamaan keluarga dan memulai membangun hakikat kebahagiaan sejati. (As)
 

Sekilas Info

Sebagai bentuk kepedulian sosial dan amal shalih kita semua, Yayasan  siap menerima anak asuh baru. Bagi muslimin dan muslimah yang memiliki informasi tentang anak yatim piatu dapat menghubungi Panti Asuhan Yatim Nur Hidayah Surakarta. Jl. Pisang No. 12 Kerten Laweyan Surakarta atau Info lebih lanjut hubungi (0271) 711792, 723737.

Dengan Syarat :

1. Islam

2. Usia SD kelas 1 - 5 ( 6th-11th)

3. Yatim Piatu atau yatim dan miskin

Renungan

Kita akan mendapat lima hal melalui lima cara; keberkahan rezeki lewat sholat dhuha, cahaya di dalam kubur lewat sholat tahajud, kemudahan menjawab pertanyaan Munkar Nakir lewat bacaan Al-Qur’an. Kemudahan melintasi Shirath melalui puasa dan sedekah. Naungan Arasy Allah melalui dzikrullah dalam keadaan bersendirian

Login Form

  • Masuk
  • Mendaftar
    Registration
    *
    *
    *
    *
    *
    REGISTER_REQUIRED
  • Redaksi Online

    Amin santoso
    :
    Setyo
    :
    Iffah
    :
    Admin :

    Konsultsasi Syari'ah Online

    Ust. Kasori Mujahid

    Donate Us

    NO.138-0093017262
    NO.521.00185.22
    NO.984 2598-5


    Statistik Pengunjung

    Kami memiliki 4 Tamu online
    Anda pengunjung ke-
    mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
    mod_vvisit_counterHari ini135
    mod_vvisit_counterKemarin213
    mod_vvisit_counterMinggu ini905
    mod_vvisit_counterBulan ini2817
    mod_vvisit_counterTotal33690

    Download smadav

    smadav antivirus indonesia

    Follow Us