Majalah Nur Hidayah

Media Mencerdaskan Umat

Monday
Mar 22nd
Home Hikmah Mampu Mengendalikan Emosi

Mampu Mengendalikan Emosi

E-mail Cetak PDF

Dalam  berbagai riwayat dikisahkan bagaimana para sahabat Rasulullah memiliki pengendalian diri atau kecerdasan emosional. Seperti kisah Ali r.a. di dalam sebuah peperangan beliau berhadapan dengan seorang kafir dan berhasil menjatuhkannya.

Dengan pedang yang sudah terhunus Ali bermaksud ingin membunuh si kafir tadi. Namun, tiba-tiba si kafir tadi meludahi muka Ali r.a. Dan Ali kemudian mengurungkan niatnya. Ali mengurungkan niatnya karena takut membunuh karena dorongan hawa nafsunya.
Kisah lainnya di masa Khalifah Umar bin Abdul Azis, ketika beliau menangkap peminum yang tengah mabuk dan akan dihukum dera. Tiba-tiba Umar bin Abdul Aziz dicaci maki oleh orang tersebut. Seketika itu pula beliau langsung mengurungkan niatnya untuk menghukum orang tersebut. Ketika ditanya: “Ya, Amirul Mukminin, kenapa Anda urung menghukumnya?” Jawabnya: “Karena ia membangkitkan emosiku. Jika menghukumnya, aku khawatir atas emosi (kemarahanku). Padahal aku takut menghukum seseorang hanya karena membela kepentingan pribadi yang berdasarkan emosi.”
Dua kisah di atas menunjukkan bahwa bagaimana orang-orang mulia tersebut memiliki kemampuan mengendalikan emosinya, agar tidak menjerumuskan kepada satu tindakan yang salah. Riwayat di atas dapat kita ambil hikmahnya bahwa bagaimana pentingnya menahan emosi dalam menentukan sikap kita disaat hati yang bergolak marah agar kita tidak salah mengambil keputusan.
Sekarang pertanyannya, sejauh mana kecerdasan emosi Anda? Untuk mengetahuinya, perhatikan spesifikasi yang dimiliki oleh orang-orang yang cerdas secara emosi:
1. Mampu Mengatasi Stress
Stress merupakan tekanan yang timbul akibat beban hidup. Stress dapat dialami oleh siapa saja. Toleransi terhadap stress merupakan kemampuan untuk bertahan terhadap peristiwa-peristiwa buruk dan situasi penuh tekanan tanpa menjadi hancur. Hal itu berarti mengelola stress dengan positif dan merubahnya menjadi pengaruh yang baik.
Orang yang cerdas secara emosional mampu menghadapi kesulitan hidup dengan kepala tegak, tegar dan tidak hanyut oleh emosi yang kuat. Dia akan menghadapi semua hal, bukannya lari dan menghindar. Dia dapat mengelakkan pukulan sehingga tidak hancur dan tetap terkendali. Mungkin saja sesekali terjatuh, tetapi dia tidak terpuruk sehingga dapat berdiri tegak kembali.
2. Mampu Mengendalikan Dorongan Hati
Mengendalikan dorongan hati merupakan karakteristik emosi menunda kesenangan sesaat untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Hal itu sering juga disebut “menahan diri.” Orang yang cerdas secara emosi tidak memakai prinsip “harus memiliki segalanya saat itu juga”. Mengendalikan dorongan hati merupakan salah satu seni bersabar dan menukar rasa sakit atau kesulitan saat ini dengan kesenangan yang jauh lebih besar di masa yang akan datang. Kecerdasan emosi penuh dengan perhitungan.
3. Mampu Mengelola Suasana Hati
Mengelola suasana hati merupakan kemampuan emosional yang meliputi kecakapan untuk tetap tenang dalam suasana apapun, menghilangkan kegelisahan yang timbul, mengatasi kesedihan atau berdamai dengan sesuatu yang menjengkelkan. Orang yang cerdas secara emosi tidak berada di bawah kekuasaan emosi. Dia akan cepat kembali bersemangat apapun situasi yang menghadang dan tahu cara menenangkan diri.
Mengelola suasana hati bukan berarti menekan perasaan. Salah satu ekspresi emosi yang bisa timbul bagi setiap orang adalah marah. Menurut Aristoteles, marah itu mudah. Namun, untuk marah kepada orang yang tepat, tingkat yang tepat, waktu, tujuan dan dengan cara yang tepat, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang cerdas secara emosi.
4. Mampu Memotivasi Diri
Orang dengan keterampilan ini cenderung sangat produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka hadapi. Ada banyak cara untuk memotivasi diri sendiri, antara lain dengan banyak membaca buku atau artikel-artikel positif, “selftalk”, tetap fokus pada impian-impian dan evaluasi diri.
5. Mampu Memahami Orang lain
Menyadari dan menghargai perasaan-perasaan orang lain adalah hal terpenting dalam kecerdasan emosi. Kemampuan memahami orang lain itu juga biasa disebut dengan empati. Empati bisa juga berarti melihat dunia dari mata orang lain. Ini berarti juga dapat membaca dan memahami emosi-emosi orang lain. Memahami perasaan orang lain tidak harus mendikte tindakan kita. Menjadi pendengar yang baik tidak berarti harus setuju dengan apapun yang kita dengar. Keuntungan dari memahami orang lain adalah kita lebih banyak pilihan tentang cara bersikap dan memiliki peluang lebih baik untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan baik dengan orang lain.
6. Memiliki Kemampuan Sosial
Orang yang mempunyai kemampuan sosial dapat bergaul dengan siapa saja, menyenangkan dan tenggang rasa terhadap orang lain yang berbeda dengan dirinya. Tingkah laku seperti itu memerlukan harga diri yang tinggi, yaitu: menerima diri sendiri apa adanya, tidak perlu membuktikan apapun (baik pada diri sendiri maupun orang lain), bahagia dan puas pada diri sendiri apapun keadaannya. Kemampuan sosial erat hubungannya dengan keterampilan menjalin hubungan dengan orang lain. Orang yang cerdas secara emosi mampu menjalin hubungan sosial dengan siapa saja. Orang-orang senang berada di sekitar mereka dan merasa bahwa hubungan ini berharga dan menyenangkan. Ini berarti kedua belah pihak dapat menjadi diri mereka sendiri.
Orang-orang dengan kecerdasan emosi yang tinggi bisa membuat orang lain merasa tentram dan nyaman berada di dekatnya. Mereka menebar kehangatan dan keterbukaan atau transparansi dengan cara yang tepat.
Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Abdul Aziz telah memberi pembelajaran kepada kita bagaimana mengendalikan dorongan hati dan mengelola suasana hati. Mereka berdua juga menunjukkan kemampuan sosial yang tinggi saat menjadi khalifah. Marilah kita berusaha memiliki kecerdasan emosi seperti mereka, paling tidak berniat memilikinya. Wallahua'lam (As)

 

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 01 Maret 2010 10:58 )  

Sekilas Info

Sebagai bentuk kepedulian sosial dan amal shalih kita semua, Yayasan  siap menerima anak asuh baru. Bagi muslimin dan muslimah yang memiliki informasi tentang anak yatim piatu dapat menghubungi Panti Asuhan Yatim Nur Hidayah Surakarta. Jl. Pisang No. 12 Kerten Laweyan Surakarta atau Info lebih lanjut hubungi (0271) 711792, 723737.

Dengan Syarat :

1. Islam

2. Usia SD kelas 1 - 5 ( 6th-11th)

3. Yatim Piatu atau yatim dan miskin

Renungan

Qur’an should be: medicine when we pain, our letter when we far away from Allah, our smile when we sad, our handkerchief when we cry, and our life when we die. It’s our life time guidance, our manual book.

Login Form

  • Masuk
  • Mendaftar
    Registration
    *
    *
    *
    *
    *
    REGISTER_REQUIRED
  • Redaksi Online

    Amin santoso
    :
    Setyo
    :
    Iffah
    :
    Admin :

    Konsultsasi Syari'ah Online

    Ust. Kasori Mujahid

    Donate Us

    NO.138-0093017262
    NO.521.00185.22
    NO.984 2598-5


    Statistik Pengunjung

    Kami memiliki 8 Tamu online
    Anda pengunjung ke-
    mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
    mod_vvisit_counterHari ini18
    mod_vvisit_counterKemarin217
    mod_vvisit_counterMinggu ini18
    mod_vvisit_counterBulan ini5363
    mod_vvisit_counterTotal36236

    Download smadav

    smadav antivirus indonesia

    Follow Us