Persaudaraan yang sejati, menurut Rasulullah saw. adalah persaudaraan antara dua anak manusia yang diikat oleh tali dan rasa cinta kepada Allah swt. Lalu, mereka hidup bersama karena Allah, berjuang bersama karena Allah, dan mati bersama juga karena Allah. Inilah realitas persaudaraan yang sungguh sangat sejati dan abadi.
Pada 14 abad yang lalu, di zaman Rasulullah saw. ada tiga orang sahabat yang ikut berjuang dalam perang Yarmuk. Ketiganya mengalami luka yang cukup berat, dan salah seorang sahabat lainnya yang bernama Abu Yahim mencari para pejuang yang mengalami luka parah. Dalam satu riwayat yang diceritakan oleh Abu Yarm bin Hudzaifah r.a.diceritakan sebagai berikut. Pada saat berlangsungnya perang Yarmuk, saya ikut dalam peperangan tersebut. Dan setelah perang berakhir, saya mencari saudara sepupu saya di antara orang-orang yang terluka dengan membawa satu kendi air untuknya. Setelah saya menemukannya dalam keadaan luka parah, saya bermaksud memberikan minuman yang saya bawa. Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sedang merintih, tergeletak di dekat saudara sepupu saya itu, ternyata sahabat baiknya juga terluka. Dengan isyarat saudara sepupu saya memerintahkan agar saya memberikan minuman tersebut kepada sahabatnya yang merintih itu. Ternyata sahabatnya itu juga dalam keadaan luka parah dan hampir meninggal. Ketika saya mendatanginya akan memberkan minum, ternyata di dekatnya juga ada sahabatnya lagi yang kondisinya kritis, kehausan dan minta air. Sahabat sepupu saya itu meminta saya untuk memberikan minum kepada sahabatnya itu lebih dulu. Ketika saya akan mendekati orang ketiga itu ternyata ia telah meninggal dunia. Ketika saya kembali kepada orang kedua tadi, ternyata dia juga sudah meninggal, dan ketika saya akan kembali kepada sepupu saya membawa air minum ternyata sepupu saya itu juga sudah meninggal. Inna lillahi wa inna illaihi raji'un. Kisah ini banyak tertulis di dalam kitab-kitab hadits. Dalam kisah ini kita dapat mengambil hikmah yang dalam, bagaimana nilai persahabatan di antara para sahabat Rasulullah yang pantas kita jadikan teladan bagi kita, bagaimana seharusnya kita bersahabat. Walaupun mereka sendiri kehausan, tetapi masih memikirkan sahabatnya. Mendahulukan sahabatnya daripada dirinya sendiri menjadi salah satu ciri sahabat sejati. Itulah yang disebut dengan istilah itsar.
Sesungguhnya Allah menganugerahkan cinta antara sesama hamba-Nya. Cinta sesama hamba-Nya diwujudkan dalam bentuk ukhuwah. Perwujudan ukhuwah ini mutlak diperlukan untuk kemashalahatan umat, baik individu, keluarga maupun masyarakat.
Persahabatan, dapat diibaratkan seperti pintu yang akan mengantar manusia menuju surga atau neraka. Mengapa? Jawabannya, seperti diutarakan Ibn Abbas, karena persahabatan dapat menimbulkan kebaikan dan keburukan sekaligus. ''Tak ada yang dapat merusak manusia selain manusia itu sendiri,'' demikian Ibn Abbas. Agar persaudaraan dan persahabatan itu melahirkan kebaikan-kebaikan, duniawi maupun ukhrawi, maka dalam persaudaraan itu harus ditegakkan nilai-nilai atau sifat-sifat yang terpuji. Di antaranya adalah sifat saling tolong-menolong dalam kebaikan (Q.S. Al-Maidah, 2), saling berpesan dalam kebenaran (Q.S. Al-Balad, 17), dan saling kasih mengasihi di antara mereka (Q.S. Al-Fath, 29).
Persaudaraan dan persahabatan harus pula didasarkan pada kesamaan idealisme dan cita-cita. Dalam kaitan ini, Ibnu 'Athailah, lewat kitab Hikam-nya mengingatkan, ''Jangan kamu bergaul dan berteman dengan orang yang idealisme, cita-cita, sikap, dan perilakunya tidak mendorongmu ke jalan yang benar, yaitu jalan Allah swt.'' Ini mengandung makna bahwa tidak setiap orang layak dijadikan sebagai teman atau sahabat.
Persaudaraan yang sejati, menurut Rasulullah saw. adalah persaudaraan antara dua anak manusia yang diikat oleh tali dan rasa cinta kepada Allah swt. Lalu, mereka hidup bersama karena Allah, berjuang bersama karena Allah, dan mati bersama juga karena Allah. Inilah realitas persaudaraan yang sungguh sangat sejati dan abadi.
Dalam kehidupan di mana sekat-sekat antara kebenaran dan kebatilan makin kabur (tasyabuh), maka identifikasi tentang siapa kawan dan siapa lawan menjadi kabur pula. Dalam keadaan demikian, wacana persaudaraan menjadi relevan untuk direnungkan kembali. Semoga persaudaraan dan persahabatan kita kekal dan abadi!
Adalah fitrah dan kebutuhan asasi manusia menjalani hidup bersama orang-orang yang dicintai dan mencintai. Bersama mereka kita akan saling menguatkan dan mendukung saat kita jatuh. Menghapus air mata saat kita bersedih. Mengulurkan bantuan saat kita susah. Memancing tawa dengan pelbagai kelakar dan kisah jenaka. Sehingga yang berat menjadi ringan, yang susah menjadi mudah, dan yang pahit menjadi manis. Demikianlah berkat cinta dan persahabatan. Sampai matipun dalam perjuangan masih mengutamakan sahabat dari pada dirinya sendiri, itulah nilai persahabatan yang digambarkan dalam kisah di atas.
Al-Qur'an menggambarkan arti persahabatan dalam kisah Nabi Musa ketika memohon pada Allah agar diberikan pendamping dalam mengemban tugas kerasulan. “Jadikanlah untukku penolong dari keluargaku. Yaitu, Harun saudaraku. Kokohkanlah dengannya kekuatanku. Dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku. Supaya kami banyak bertasbih kepada-Mu. Serta banyak mengingat-Mu.” (Q.S. Thaha: 29-34)
Saudara atau sahabat dalam perjalanan kehidupan ini bagaikan garam dalam masakan. Tanpanya hidup akan terasa hambar. Tanpa cinta dan persahabatan ini hidup tentu tidak ada dinamika dan akan terasa gersang.
Persaudaraan ini akan kian bermakna lagi apabila berada dalam satu mozaik indah beridentitas Islam. Karena dengannya segala perbedaan kelas sosial, ragam suku, bahasa, budaya, negara, politik hingga nuansa pemikiran dan rasa akan lebur menjadi satu pelangi yang indah dan tak terpisahkan. Dan seperti pinta Nabi Musa as. persaudaraan atau pertemanan ini akan menjadi peneguh kekuatan dan teman dalam memuji dan mengingat-Nya. Subhanallah, begitulah indahnya persahabatan dalam Islam.(As)
Nilai-Nilai Persahabatan











