Cerdas bukan hanya bisa mengerjakan soal Matematika yang rumit. Cerdas juga bukan hanya dapat menyanyi dengan nada oktaf tinggi. Orang biasanya dikatakan cerdas jika dapat meraih prestasi selangit atau pandai main catur. Dan semua-muanya dikaitkan dengan yang namanya IQ alias Intelligence Quotient. Masalah apapun, dapat dihadapi dan diselesaikan dengan cerdas. Contohnya jika menghadapi soal matematika dapat selesai dengan cepat dan tepat alias bener semua? Jika menghadapi soal bahasa Indonesia dapat menyelesaikan dengan tuntas? Nggak gitu banget kale…
Cerdas dikatakan Bu Fitri erat kaitannya dengan penerimaan dan penyikapan seseorang ketika menghadapi masalah, Atau dalam ranah SQ – spiritual quotient, menghadapi ketentuan Allah swt. Kecerdasan nggak cuma soal menghitung dan menghafal prens. Tapi lebih dari itu, hingga kita-kita tidak lagi menjadi pencari ilmu, para tulabi, orang cerdas akan tetap menjadi cerdas karena berhasil mengatasi permasalahan hidupnya. So apa yang musti kita perhatikan agar kita dikategorikan sebagai orang yang smart? Cerdas dalam menghadapi masalah? Ini dia tips dari Ibu guru kita, Ibu Fitri Ariyani, S.Psi.
1. Kenali diri kita, apakah termasuk tipe ekstrovert atau introvert. Bedanya secara sederhana orang ekstrovert lebih terbuka untuk bercerita kepada orang lain. Mudah meminta tolong dan tidak memendam masalah sendirian. Sebaliknya, orang introvert lebih cenderung menutup diri dari campur tangan orang lain. Maksudnya, sungkan untuk bercerita tentang pribadi atau masalah yang sedang dihadapi, dan lebih nyaman dengan dunianya sendiri. Usahakan agar kita menjadi pribadi yang tidak ekstrim pada keduanya.
2. Carilah jalan penyelesaian masalah yang tepat. Jika kalian sudah tahu tipe kepribadian masing-masing, upayakan untuk selalu menyelesaikan masalah dengan tuntas. Selain berbicara atau curhat dengan sahabat, ortu, atau guru, kalian juga bisa menulis untuk mengurai masalah. Ada juga teori chairman therapy. Yakni memerankan orang-orang yang bermasalah dengan kita dari sudut pandang masing-masing tokoh. Contohnya ada masalah dengan Mawar dan Rambutan, maka untuk menyelesaikannya dengan berpura-pura menjadi mawar, rambutan, dan diri kalian sendiri.
3. Sebagai pelajar ataupun gelar lainnya, upayakan untuk memasang target sesuai dengan kapasitas kita. Ukur kemampuan dan perkirakan batas atau limit yang bisa kita capai.
4. Fokus pada proses bagaimana kita menjalani dan mengejar target daripada mengejar hasil. Akibatnya jika fokus pada hasil akan membuat kita mudah down karena kegagalan. Berbeda jika kalian berorientasi pada proses, hasil seperti apapun akan melihat pada kerja keras dan kesungguhan usaha.
5. Peran orang tua dan lingkungan sangat penting. Mintalah kepada mereka agar turut membantu kalian membentuk konsep diri yang positif. Bagi mereka yang sudah memahami proses pembentukan konsep diri anak, akan memberikan support positif dan mendorong anak untuk berkembang secara maksimal. Seperti seorang guru SD yang mengatakan, “Tidak ada anak yang bodoh, semuanya sama pintar. Prestasi yang diperoleh adalah hasil dari usaha masing-masing, dengan kerja keras atau malas-malasan.”
6. Jadilah lingkungan yang positif untuk teman-temanmu. Jika kalian sudah mendapatkan hak dengan lingkungan yang positif maka berusahalah menjadi teman yang member pengaruh positif kepada temanmu yang lain. Caranya budayakan positif thinking/husnudhon, selalu mensupport dalam kebaikan, dan kembangkan budaya kompetisi alam kebaikan.
7. Ini yang paling penting prens, selalu ingat kepada Allah swt. yang sudah merencanakan segala sesuatu yang terjadi pada kita dengan sebaik-baiknya. Jaga kedekatan dnegan-Nya dan mohonlah selalu yang terbaik bagi kalian. (Kak If)















