Majalah Nur Hidayah

Media Mencerdaskan Umat

Saturday
Mar 20th
Home

Israel dan Pencurian Air Palestina

E-mail Cetak PDF

Sejumlah laporan dari lembaga Internasional maupun Palestina akhir-akhir ini menunjukan air di sejumlah kota ataupun daerah di Tepi Barat, terutama Betlehem mengalami kekeringan. Warga pemukim Israel menghabiskan air enam kali lipat dibanding warga Palestina, sebagai pemilik hak atas tanah yang dirampas oleh mereka, termasuk sumber airnya.

Dari pemantauan di lapangan terbukti, kegiatan perluasan permukiman Israel berbarengan dengan penggusuran sumber-sumber air bagi bangsa Arab. Dalam kaitan ini, departemen luar negeri Inggris menyebarkan data rahasia yang ditulis oleh Ben Goregon tahun 1941, “kita harus ingat demi eksistensi negara Yahudi, maka sungai Yordania dan Lithuania harus berada di dalam perbatasan negara kita”.
Buntut dari keyakinan ini, pada Mei 1948, Israel memperluas wilayah kekuasaannya dengan menguasai sebagian besar sumber-sumber air Palestina. Sejumlah instansi khusus Israel bekerja untuk merealisasikan proyek-proyek pengairan. Yang terbesar adalah proyek, “Pengaliran Air Nasional”, untuk mentransfer air dari Danau Tiberias ke Negev gurun, yang luasnya 50% lebih dari wilayah Palestina historis.
Urgensi Air bagi Negara Zionis
Para pemegang kebijakan serta perancang Israel, satu haripun tak pernah luput dari pembahasan ataupun rencana untuk menguasai sebanyak mungkin sumber-sumber air Negara Arab. Baik yang berada di wilayah Palestina ataupun Negara arab lainya. Dengan demikian perbatasan wilayah Israel semakin luas dari sisi geografis sejak tahun 1948, bersamaan dengan perang bulan Juni 1967. Dan itu juga yang melatarbelakangi pembangunan tembok rasial yang mulai dikerjakan pada tahun 2002 yang menghabiskan 50% wilayah Palestina di Tepi Barat seluas 5800 Kilo meter persegi.
Persiapan Menuju Penguasaan terhadap Sumber Air Tepi Barat
Untuk menunjukan betapa pentingnya air bagi daerah-daerah jajahan Palestina 1967, bagi Israel adalah dengan penerbitan sejumlah keputusan palsu untuk memperluas jangkauan air di Tepi Barat. Dan di antara keputusan penting adalah keputusan tujuh Juni 1967 yang menyebutkan, tanah yang dirampas tersebut adalah milik Israel. Untuk itu dikeluarkan keputusan pemerintah untuk menguasai sumber-sumber air. Mereka melarang warga Palestina membuat sumur-sumur baru atau memperbaiki sumur lama. Dengan keputusan itu, pemerintah Israel dapat menguasai sebagian besar sumber-sumber air milik Palestina di Tepi Barat.
Akibatnya, masalah kekurangan air menjadi masalah yang serius di wilayah Palestina yang mengancam kehidupan rakyat di masa yang akan datang. Termasuk masalah pertanian mereka yang akan meminggirkan sektor pertanian dan meningkatkan pengangguran yang telah mencapai 60% dari masyarakat Palestina secara kesuluruhan di Tepi Barat.
Pada saat yang sama, tidak ada langkah-langkah serius baik dari Palestina maupun Arab untuk membatasi masalah pencurian air ini semakin meluas. Di sisi lain, komisi-komisi Israel yang bertanggung jawab dalam masalah ini, tambah mengintensifkan kegiatannya untuk menghadapi perang dengan Palestina di masa yang akan datang.
Demografi Palestina dan krisis air di masa yang akan datang
Melalui sejumlah rancangan dan politisasi, Israel berhasil menguasai 81% sumber-sumber air Palestina selama rentang 1967 hingga 2009. Berdasarkan hasil kajian bahwa sumber air milik Palestina mencapai 750 juta meter kubik per tahun.
Walau sudah ada kesepakatan dalam masalah pemindahan 80 juta meter kubik air dalam satu tahun untuk Palestina, namun pemerintah Israel masih bisa mengelabuinya. Sementara rakyat Palestina di Tepi Barat membutuhkan 150 juta meter kubik per tahunnya. Tetapi 50% saja tidak terpenuhi, bersamaan dengan peningkatan jumlah penduduk di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang mencapai empat juta orang pada tahun 2009. Maka kebutuhan air pun terus meningkat.
Masalah krisis air tidak hanya menimpa Tepi Barat, juga Jalur Gaza. Meningkat padatnya permukiman pendudukan yang menempati wilayah yang tak lebih dari 364 kilometer persegi. Di mana penduduknya membutuhkan 120 juta meter kubik per tahun. Sementara yang bisa ditampung dari air hujan tak lebih dari 45 juta meter kubik saja.
Situasi ini diciptakan oleh siasat perpolitikan Israel yang akan menyebabkan masalah baru berupa kesehatan, akibat tercemarnya air. Dan berdasarkan sejumlah kajian menunjukan Israel telah menghabiskan 90% sumber air yang terbarukan setiap tahunnya untuk keperluan rumah tangga, pertanian dan industri. (@b/Sumber: Aljazeera.net-infopalestina)

 

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 01 Maret 2010 11:15 )  

Sekilas Info

Sebagai bentuk kepedulian sosial dan amal shalih kita semua, Yayasan  siap menerima anak asuh baru. Bagi muslimin dan muslimah yang memiliki informasi tentang anak yatim piatu dapat menghubungi Panti Asuhan Yatim Nur Hidayah Surakarta. Jl. Pisang No. 12 Kerten Laweyan Surakarta atau Info lebih lanjut hubungi (0271) 711792, 723737.

Dengan Syarat :

1. Islam

2. Usia SD kelas 1 - 5 ( 6th-11th)

3. Yatim Piatu atau yatim dan miskin

Renungan

Hati yang berada dalam naungan cahaya iman, akan memandang keletihan dalam berjuang sebagai kenikmatan dan mereka senantiasa melihat pengorbanan karena berujung pada ketaqwaan dan surga.

Login Form

  • Masuk
  • Mendaftar
    Registration
    *
    *
    *
    *
    *
    REGISTER_REQUIRED
  • Redaksi Online

    Amin santoso
    :
    Setyo
    :
    Iffah
    :
    Admin :

    Konsultsasi Syari'ah Online

    Ust. Kasori Mujahid

    Donate Us

    NO.138-0093017262
    NO.521.00185.22
    NO.984 2598-5


    Statistik Pengunjung

    Kami memiliki 12 Tamu online
    Anda pengunjung ke-
    mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
    mod_vvisit_counterHari ini117
    mod_vvisit_counterKemarin271
    mod_vvisit_counterMinggu ini1414
    mod_vvisit_counterBulan ini4979
    mod_vvisit_counterTotal35851

    Download smadav

    smadav antivirus indonesia

    Follow Us