Dalam sebuah konferensi ilmiah, seorang pakar astronomi menjelaskan betapa idealnya posisi bumi dalam tata surya kita. Dengan posisi seperti sekarang ini, bumi memiliki iklim dan cuaca yang cocok untuk kehidupan manusia. Seandainya saja posisinya bergeser mendekat ke arah matahari, bisa dibayangkan betapa panasnya suhu permukaan bumi dan kehidupan manusia akan sirna. Sebaliknya, apabila posisinya lebih menjauh dari matahari maka bisa dipastikan seluruh permukaan bumi akan beku dan kondisi itu juga tidak cocok untuk kehidupan manusia. Pakar tersebut mengakhiri penjelasannya dengan sebuah ajakan kepada audiens untuk senantiasa berfikir tentang alam semesta yang luar biasa. Bagi orang yang beriman, tegas beliau, berfikir tentang alam semesta akan membawa pada puncak pengakuan atas kekuasaan Allah swt.
Dengan bahasa yang sederhana kita bisa mengatakan bahwa bumi dan segala isinya benar-benar dipersiapkan Allah swt. untuk kehidupan manusia, lengkap dengan berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Dengan modal ilmu pengetahuan yang dikaruniakan Allah, manusia mengolah kekayaan alam untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Nah, disinilah persoalan bermula. Sebagian manusia terjebak pada prinsip do what can be done, yakni mengelola sumber daya apapun dengan prinsip eksploitasi, padahal seharusnya lebih mengedepankan prinsip do what should be done, yaitu mengelola sumber daya dan memanfaatkan secara proporsional. Yang lebih berbahaya adalah ketika manusia mengikuti segala keinginannya dengan prinsip take what you want (mengambil sumber daya alam sesuai keinginan) dan menjauhi prinsip take what you need (mengambil sesuai dengan kebutuhan saja).
Sikap eksploitatif manusia terhadap alam telah menyebabkan kesetimbangan alam terganggu sehingga muncullah berbagai kejadian alam yang sering disebut dengan bencana alam, mulai dari gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, banjir sampai terjadinya pemanasan global (global warming). Stabilitas bumi benar-benar terganggu akibat perbuatan manusia yang sulit dikendalikan. Dalam konteks inilah sesungguhnya kita mudah memahami hubungan antara sifat manusia dengan kondisi lingkungan alam, terlebih bila kita mau menggunakan kaca mata iman. Al-Qur’an telah mengingatkan hal ini dengan jelas dalam QS. Ar-Ruum ayat 41, yaitu, ”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali.”
Oleh karena itu, munculnya berbagai gerakan pecinta lingkungan hidup, baik yang inisiatif individu maupun kelompok, merupakan sesuatu yang patut diapresiasi. Kita pantas bercermin pada mereka yang bersemangat melakukan amal kebajikan dalam ranah penyelamatan lingkungan. Sesungguhnya mereka sedang menjalankan salah satu tugas mulia, tanpa harus mengharapkan penghargaan dan piala. Bagaimana dengan kita? Wallahu a'alam. (wir)















